Sabtu, 09 Maret 2013

PEMAHAMAN DASAR DOKUMENTER



Dokumenter merupakan bentuk film yang merepresentasikan sebuah realita, dengan melakukan perekaman gambar sesuai apa adanya. Adegan peristiwa yang sifatnya alamiah atau spontanitas akan selalu berubah serta cukup sulit diatur, sehingga perlu konsentrasi pada tingkat kesulitan yang dihadapi, sekaligus dengan pemikiran yang kreatif. 
Sineas dokumenter ketika mengawali kerjanya itu sudah harus memiliki ide dan konsep jelas, mengenai apa yang akan disampaikan dan bagaimana menyampaikannya secara logis serta mampu memukau penonton, berdasarkan aspek-aspek dramatik yang mampu direpresentasikannya.
Dokumenter bukan Reportase
Dokumenter bukan Dokumentasi

Sineas dokumenter bukan reporter tetapi seorang observator, apabila apa yang terlihat dipermukaan bagi reporter sudah memadai, sedangkan bagi sineas dokumenter justru baru bagian awal. Pembuat dokumenter perlu mengeksplorasi lebih dalam lagi apa yang ada dibalik maupun sebab akibat dari peristiwa serta pengalaman dan latar belakang para pelaku peristiwa (subjek) tersebut.
Fakta apa yang harus diketahui penonton untuk mengikuti dan memahami film anda?. Kalimat ini merupakan pijakan sutradara untuk merancang konsep penuturan bagi filmnya. Sineas dokumenter harus memiliki sudut pandang dan pengamatan kuat terhadap objek dan subjeknya, sehingga penafsiran atau interpretasi sutradara tidak merubah konstruksi dan kronologi fakta yang ada. Interpretasi sutradara dapat memenggal-menggal kenyataan yang ada, maka menggunakan tehnik direct sound dapat menjaga dan memagari kesinambungan kenyataan tersebut. Interpretasi terhadap sebuah adegan kisah realita tidak sebebas seperti pada adegan cerita fiksi. Apabila seorang sutradara dokumenter salah atau keliru menginterpretasikan suatu adegan dari peristiwa nyata, itu berarti memanipulasi kenyataan serta mengelabui kepercayaan penontonnya. Tujuan membuat film dokumenter untuk mengelabui atau memanipulasi realita, itu dapat ditemui pada film dokumenter bertujuan propaganda politik.
Untuk memberikan sentuhan estetika pada filmnya, ada empat topik utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yaitu mengenai pendekatan, gaya, bentuk dan struktur. Ini merupakan teori dasar yang dijadikan bahan ramuan bagi sutradara untuk menggarap filmnya dengan baik. Belakangan ini terlihat beberapa dokumentaris pemula mulai menggarap film mereka tanpa memperdulikan teori dasar film yang dapat memberikan sentuhan estetika dramatik pada karya mereka. Hal ini didasari suatu keinginan secara instan membuat sebuah film dokumenter, disertai argumentasi bahwa isi adalah yang utama sedangkan estetika adalah masalah berikutnya. Akibatnya pemahaman terhadap perbedaan antara bentuk film berita dengan film dokumenter menjadi rancu.

PENDEKATAN
Ada dua hal yang menjadi titik tolak pendekatan dalam dokumenter, yaitu apakah penuturan di ketengahkan secara essai atau naratif. Keduanya memiliki ciri khas yang spesifik dan menuntut daya kreatif kuat dari sutradara. Pendekatan essai dapat dengan luas mencakup seluruh peristiwa, yang dapat diketengahkan secara kronologis atau tematis. Menahan perhatian penonton untuk tetap menyaksikan sebuah pemaparan essay selama mungkin itu cukup berat, karena umumnya penonton lebih suka menikmati sebuah pemaparan naratif. Sebagai contoh, bila kita mengetengahkan selama 30 menit tentang peristiwa peledakan bom di Kuta Bali secara essai, mungkin ini masih cukup menarik. Akan tetapi bila durasi di perpanjang menjadi 60 menit maka ini cukup sulit untuk menahan perhatian penonton. Dengan demikian kita perlu menampilkan tentang sosok profil dan kehidupan si pelaku kebiadaban itu, serta dampak penderitaan yang menimpa para korbannya, sekaligus untuk memperkuat aspek human interest.
Pendekatan naratif mungkin dapat dilakukan dengan konstruksi konvensional tiga babak penuturan. Sebagai contoh: pada bagian awal untuk merangsang keingintahuan penonton, diketengahkan tentang bagaimana peristiwa itu terjadi yang memakan korban ratusan jiwa tak berdosa. Pada bagian tengah di kisahkan bagaimana profil para teroris serta latar belakang kehidupannya dan motivasi kebiadabannya itu, sebagai proses menuju tindakan peledakan bom. Di bagian akhir mungkin dapat di paparkan mengenai bagaimana dampak yang di terima para korban ledakan bom sebagai suatu klimaks yang dramatik, ditambah sejumlah pesan kemanusiaan mengenai terorisme dan kekerasan yang sedang mewabah di Indonesia.        
Menurut saya tak ada salahnya bila menggunakan kombinasi dari kedua pendekatan ini, dengan catatan harus sesuai dengan bentuk penuturan serta isi tema yang akan disampaikan. Sehingga dinamika kreatifitas dapat dituangkan sepenuhnya untuk dapat menuntun penonton agar tetap memperhatikan isi film.
Umumnya setiap isi penuturan dalam film memerlukan pembingkaian (framing) dan sudut pandang (point of view), untuk menerangkan dari sisi mana dan siapa yang bertutur dalam film tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya  semacam karakter atau tokoh yang akan menuturkan isi dan pesan dari film, di dalam film dokumenter biasa di istilahkan dengan benang merah penuturan (karakter yang mengikat keseluruhan cerita). Karakter tersebut dapat menjadi semacam identitas yang dapat membangun rangsangan emosi.
Karakter memberikan sebuah observasi terhadap pola berpikir maupun tindakan aksi subjek sebagai reaksi kepada suatu sebab akibat. Apabila film anda memiliki subjek maka sudut pandang subjek tersebut yang dijadikan kunci aksi didalam bertutur. Selain itu karakter dapat pula diposisikan sebagai yang bercerita mengenai tokoh atau subjek itu sendiri, dengan menempatkannya secara in-frame (berinteraksi langsung dengan subjek) atau out-frame (melalui narasi/voice-over). 

GAYA

Membicarakan masalah gaya dalam film dokumenter merupakan suatu pembicaraan yang tak ada habisnya, karena gaya terus menerus berkembang sesuai kreatifitas sang dokumenteris. Gaya dalam dokumenter terdiri dari bermacam-macam kreatifitas, seperti gaya humoris, puitis, satir, anekdot, serius, semi serius dan sterusnya. Kemudian dalam gaya ada tipe pemaparan eksposisi (Expository documentary) yang konvensional, umumnya merupakan tipe format dokumenter televisi dengan menggunakan narator sebagai penutur tunggal. Oleh karena itu narasi disini disebut sebagai Voice of God  karena aspek subjektifitas dari narasi/narator, anda bisa lihat contoh kemasan dokumenter  pada tayangan Discovery chanel dan National Geographic.
Dipihak lain adapula tipe observasi (Observational documentary) yang hampir tidak menggunakan narator, akan tetapi berkonsentrasi pada dialog antar subjek-subjeknya. Pada tipe ini sutradara menempatkan posisinya sebagai observator. Frederik Wisseman dalam “High School I & II” melalui kamera dia hanya mengamati semua kejadian yang terjadi setiap hari di sebuah sekolah menengah umum di Philadelphia, Amerika Serikat. Wiseman berusaha mengetengahkan konflik yang terjadi antara sesama murid, guru dengan murid, hingga antara murid, guru, dan orang tua murid. Akan tetapi konflik yang ditampilkan tak mampu memberikan aspek dramatik, sehingga alur penuturan terasa datar. Konsep Wisseman terlihat sederhana yaitu hanya merekam kejadian sehari-hari yang ada di sekolah itu, filmya itu dianggap mampu menerapkan metode cinema verite, dan menjadi materi bahasan dihampir setiap literatur dokumenter, meskipun butuh kesabaran untuk menikmati film yang terasa monoton itu.
Adapula sutradara yang berperan aktif dalam filmnya, dimana komunikasi sutradara dengan subjeknya ditampilkan dalam gambar (in frame), dengan tujuan memperlihatkan adanya interaksi langsung antara sutradara dengan subjek, ini merupakan gaya Interaktif (Interactive documentary). Apabila ada wawancara maka tipe ini tidak sekedar memperlihatkan adegan wawancara tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana wawancara itu dilakukan. Disini sutradara memposisikan diri bukan sebagai observator tetapi justru sebagai partisipan. Gaya ini dapat di lihat pada karya Michael Moore dalam “Bowling for Columbine” (2002) dan “Fahrenheit 9/11” (2003), dimana sutradara menjadi benang merah di dalam menuntun alur penuturan dalam film tersebut.
Gaya yang kini sangat jarang ditemui adalah gaya dimana film tersebut merupakan sebuah refleksi (Reflexive documentary) dari proses pembuatan (shooting) film tersebut. Dokumentaris Rusia Dziga Vertov merupakan pelopor dalam gaya ini. Dengan filmnya yang berjudul “Man with the movie camera” (1928), Vertov hanya bertujuan merefleksikan dua prinsip teorinya mengenai apa itu film kebenaran (Kino Pravda=Film Truth), dimana semua adegan harus sesuai apa adanya. Kemudian dia menekankan bahwa  kamera sebagai mata film (film eye) merekam realita tiap adegan yang di susun kembali  berdasarkan pecahan shot yang dibuat. Gaya refleksi lebih jauh daripada interkatif karena, fokus utama adalah menuturkan proses pembuatan shooting film ketimbang menampilkan keberadaan subjek (karakter) dalam film.
Gaya yang sudah mendekati film fiksi adalah gaya pervormatif (Performative documentary) karena disini yang lebih diperhatikan adalah kemasannya yang harus semenarik mungkin. Bila umumnya dokumenter tidak mementingkan alur penuturan (plot) pada gaya ini justru diperhatikan. Sebagian mengkategorikannya sebagai film semi-dokumenter. Dokumentaris Errol Morris dalam filmnya “The Thin Blue Line” (1988) merepresentasikan sebuah peristiwa pembunuhan terhadap seorang polisi bernama Robert Wood di Dallas, Amerika Serikat pada tahun 1976. Kasus ini menjadi kontrovesial karena yang dituduh dan dihukum adalah seorang tuna wisma Randall Adams, sedangkan saksi kunci mengatakan pembunuhnya adalah orang lain. Isi cerita didasarkan hanya pada sebuah testimoni serta daya ingat dari para saksi mata. Sehingga bentuk penuturan menjadi seperti sebuah investigasi terhadap kebenaran kasus pembunuhan yang hingga kini tetap gelap. Gaya Morris cukup genit dengan menggunakan tipe shot yang variatif seperti pada film fiksi, hal ini dapat terjadi karena isi cerita dapat direkonstruksi ke dalam naskah (shooting script) sehingga perekaman gambar dapat dilakukan seperti membuat film fiksi, hal ini dapat dilakukan pada dokumenter dengan bentuk penuturan investigasi.

BENTUK
Pada hakikatnya bentuk penuturan pun masih termasuk di dalam bingkai gaya, hanya saja lebih spesifik. Pada prinsipnya setelah mendapatkan hasil riset, kita sudah dapat menggambarkan secara kasar bentuk penuturan apa yang akan kita pakai. Dengan menentukan sejak awal bentuk apa yang akan dikemas, maka selanjutnya baik itu pendekatan, gaya, struktur akan mengikuti ide dari bentuk tersebut. Misalnya bila kita menginginkan bentuk penuturan laporan perjalanan, maka pendekatan, gaya dan strukturnya dapat di rancang bangun, sehingga baik aspek informatif, edukatif maupun hiburan dapat menyatu sehingga memikat perhatian penonton.
Bentuk tidak harus berdiri sendiri secara baku, karena sebuah tema dapat saja merupakan gabungan dari dua bentuk penuturan. Misalnya bentuk penuturan potret dapat saja digabungkan dengan nostalgia atau perbandingan, atau bentuk nostalgia dengan isi penuturan yang mengetengahkan sebuah kontradiksi dari subjek. Sebuah kisah tentang nostalgia dari seorang wartawan perang Inggris yang kembali ke Afganistan setelah selang beberapa tahun, akan memberikan gambaran perbedaan atau kontradiksi mengenai kondisi masa lampau dan masa kini. Perlu disadari bahwa bentuk memang perlu tetapi bukan berarti  membatasi kreatifitas anda, justru sebaliknya harus memperkaya daya kreativitas dengan kemampuan interpretasi visi visual yang mampu mengetengahkan sebuah peristiwa kehidupan secara apa adanya dengan kemasan yang memikat.

STRUKTUR
Apa yang dimaksud dengan struktur disini adalah rancangan konstruksi untuk menyusun/menyatukan berbagai unsur film sesuai dengan apa yang menjadi ide dari penulis atau sutradara berdasarkan tema. Teori film dasar pada penulisan naskah terdiri dari rancang bangun cerita yang memiliki tiga tahapan dasar yang baku seperti: bagian awal cerita (pengenalan/introduksi), bagian tengah cerita (proses krisis&konflik) hingga bagian akhir cerita (klimaks/anti klimaks). Ketiga bagian ini merupakan rangkuman dari susunan shot yang membentuk adegan (scene) hingga sekwens (sequence). Akan tetapi perlu diketahui bahwa pemahaman mengenai struktur film tidak sesederhana seperti yang dikemukakan disini. Struktur film memiliki makna estetika, psikologis dan bahasa sinematografi yang lebih luas lagi.
Menentukan struktur bagi dokumenter tidak semudah pada film cerita fiksi, terutama bila sutradara belum menentukan pendekatan apa yang akan dilakukan berkaitan dengan ide dan tema. Harus diakui bahwa struktur lebih dipentingkan oleh film fiksi dari pada film dokumenter, akan tetapi seni tanpa struktur akan mengalami kekeringan estetika. Penulis mengakui pula bahwa struktur yang merupakan tulang punggung penuturan oleh kebanyakan sutradara dokumenter kadang tidak begitu di perdulikan. Struktur penuturan dalam dokumenter dapat di bagi kedalam dua cara umum yaitu, secara kronologis dan tematis. Kedua cara ini sekaligus pula merupakan refleksi dari pendekatan esai dan naratif tadi. Struktur kronologis lebih mudah merancangnya dibanding tematis. Kelebihan struktur tematis ialah kemampuannya merangkum penggalan-penggalan sekwens (sequence) yang kadang tidak berkesinambungan, tetapi dapat di rangkai menjadi suatu kesatuan sebab isi dan tema menjadi bingkai cerita.

SINEAS DOKUMENTER
Seorang sineas dokumenter (dokumentaris) perlu banyak membaca, banyak mengamati lingkungannya, berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat, berdiskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas sosial dan budaya. Seorang dokumentaris adalah seorang pelahap semua bahan bacaan dan rajin membuat kliping tulisan atau berita dari semua media cetak. Karena setiap hari bahkan setiap jam, ada saja peristiwa yang terjadi dan merupakan suatu pengalaman hidup manusia yang mungkin saja menarik untuk di jadikan tema bagi sebuah produksi dokumenter.
Secara khusus sineas dokumenter adalah individu yang harus kreatif. Menguasai teori film dan sinematografi saja tidak cukup, karena disamping itu harus memiliki pengetahuan umum luas dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Kemampuan intelektual (akademis) sangat diperlukan karena membuat dokumenter bertujuan merepresentasikan kehidupan semua mahluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuh2an, lingkungan alam  yang ada di muka bumi ini secara menarik dan dramatik.
Sebagai sutradara harus menguasai konsep sinematografi, yang memiliki tujuan atau motivasi ketika merepresentasikan bahasa visual melalui media audiovisual, sehingga tidak sekedar kreatifitas eksperimental belaka. Minimal Sutradara harus memahami makna dan tujuan dari metode dasar seperti:
1.    Gerak Kamera (pan, tilt, crabs, track, dollie)
2.    Kesinambungan/kontinuiti  (shot, scene, sequence, screen direction)
3.    Memotivasi emosi penonton
4.    Cutaways (untuk menyingkat waktu dan merubah point of view, terutama bila mengalami kesalahan screen direction)
5.    Makna shot (memahami dampak dari tipe2 shot pada emosi penonton)
6.    Lensa (pemahaman jenis lensa dan tujuan penggunaannya)

Sutradara harus memiliki kejelasan visi dan maksud dari apa yang akan disampaikan dalam film tersebut, disamping yakin pada apa yang mejadi fokus dari isi penuturan serta pesan yang hendak disampaikan. Memiliki pendekatan dan gaya (style) dalam merepresentasikan karyanya itu. Bertanggung jawab serta tegas dalam mengambil keputusan, akan tetapi bukan berarti harus menolak setiap pendapat dari rekan kerjanya.
Mampu mendengarkan, mengobservasi setiap masukan ide, mampu mengadaptasi dan menghayati karakter atau sifat subjeknya. Kendala yang tak diduga sering muncul di lapangan, untuk itu sutradara sebagai pemimpin kreatif harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, serta siap dengan strategi antisipasinya agar tidak mengganggu jalannya proses produksi.
Umumnya untuk mempermudah kamerawan memahami tugasnya melakukan perekaman gambar (shooting), maka dari skenario atau treatment disusun pecahan-pecahan adegan atau sekwens menjadi sejumlah susunan shot disebut breakdown script/shot. Kemudian pada saat shooting ada baiknya dibuatkan catatan visual di sebut daftar shot (shot list) untuk memudahkan pengecekannya nanti saat memasuki proses editing. Hal ini akan mempermudah kerja sutradara dan editor saat menyeleksi dan mencari gambar (stock shot) yang dibutuhkan. Pada proses pembuatan film fiksi daftar shot harus dibuat, sedangkan pada film dokumenter ini bukan suatu keharusan akan tetapi menunjukan sikap profesional dalam efisiensi kerja.            

ADEGAN WAWANCARA
Maksud dari wawancara disini bukan seperti wawancara antara nara sumber dengan seorang reporter berita televisi. Sutradara dan editor di tuntut kemampuannya untuk  mengemas adegan wawancara ini dengan menarik sehingga tidak kaku seperti wawancara liputan berita. Misalnya menyusun isi dan adegan wawancara sedemikian rupa sehingga terlihat subjek sedang menceritakan pengalamannya.
Pada saat melakukan riset dan pendekatan terhadap subjek, sutradara sudah harus mempelajari subjek baik karakter, sikap berbicara serta cara menyampaikan setiap jawaban yang diajukan kepadanya. Ada subjek yang selalu menjawab dengan sangat singkat, tetapi ada pula yang terlalu berkepanjangan. Semua ini sudah harus dipelajari saat proses pendekatan. Hal penting bagi sutradara adalah bagaimana agar dapat mengarahkan subjek untuk dengan bebas berbicara, bersikap, bertindak secara wajar.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan wawancara ialah:
q  Harus mengetahui lebih dulu apa yang menjadi objektifitasnya.
q  Apa yang akan diangkat / diungkap dalam wawancara tersebut.
q  Bagaimana mengarahkan wawancara agar apa yang ingin diungkap
            dapat terpenuhi.

Dalam hal ini bentuk atau sifat pertanyaan harus memiliki keseimbangan dengan jawabannya. Apakah anda mengajukan suatu pertanyaan khusus dengan tujuan mendapatkan jawaban khusus pula, atau anda mengajukan pertanyaan bersifat umum dan jawabannya pun akan bersifat sama. Satu hal perlu di ingat bahwa setiap pertanyaan harus terfokus dan langsung.
Pada dasarnya dalam produksi dokumenter anda akan melakukan wawancara dua kali, pertama saat riset/hunting yang merupakan proses pendekatan pada subjek, kedua ketika melakukan perekaman gambar (shooting). Pada wawancara pertama, merupakan tahap pemilihan nara sumber, kemudian di wawancara kedua nara sumber sudah dipilih dengan tepat. Harap di ingat betul bahwa wawancara merupakan jantung dari film dokumenter.

LOKASI
Untuk lokasi harus diperhatikan siapa subjek yang akan di wawancarai, berkaitan dengan usia, posisi dan profesinya. Dalam memilih lokasi wawancara (setting), ada dua hal yang perlu diperhatikan:
1.    Bila wawancara dilakukan dalam posisi duduk, memberi kemungkinan subjek yang diwawancarai merasa lebih santai. Ini bisa dilakukan di rumahnya, tempat  kerja, atau sebuah tempat yang lingkungannya tenang. Seorang penjabat yang sudah pensiun biasanya memilih lokasi untuk wawancara di rumahnya. Tetapi penjabat yang masih aktif bekerja, akan memilih ruang tempat kerjanya sebagai lokasi wawancara. Dimana latar belakang saat dia diwawancarai akan memperkuat gambaran mengenai posisi jabatannya itu.
2.    Memperhatikan mengenai latar belakang aktivitas subjek cukup penting.  Apabila dokumenter mengenai suatu penelitian, maka lokasi penelitian akan menjadi latar belakangnya. Apabila ceritanya mengenai suatu musibah maka akan lebih baik lokasi kejadian dijadikan latar belakang, daripada di rumah atau memakai latar belakang lain seperti di sebuah taman yang memberikan gambaran  ketenangan.

Untuk membantu menentukan lokasi wawancara, ada 3 hal yang harus di jawab:
  1. Apakah latar belakang ini, mampu menggugah perasaan (mood) dan memiliki aspek dramatik ?.
  2. Apakah  latar belakang ini menyebabkan orang yang akan anda wawancarai tidak santai, atau agak gugup, karena banyaknya orang yang lalu lalang disekitar situ. Lingkungan gaduh, dapat mengganggu suasana wawancara ?.
  3. Apakah kesan yang terekam dari latar belakang tersebut tidak terlalu menonjol, sehingga dapat mengalihkan perhatian penonton dari apa yang ingin disampaikan dalam wawancara tersebut ?.

Ke tiga hal diatas perlu diperhatikan sebagai hal yang mendasar, agar keseluruhan imago dan informasi cerita tidak terganggu. Pada umumnya melakukan wawancara di udara terbuka (exterior) akan lebih praktis, karena tidak terlalu repot dengan penataan cahaya. Tetapi ada kemungkinan mendapat gangguan suara (noise) dari lingkungan di sekitar saat melakukan perekaman suara. Perlu di ingat bahwa tidak selalu suara atmosfir lingkungan itu menggangu, kadang justru dibutuhkan untuk memberi nuansa adanya suatu kehidupan nyata di sekitar posisi subjek. Di pihak lain bila penonton mendengar suara noise atmosfir, ini merangsang rasa ingin mengetahui dari mana suara atmosfir itu bersumber, sehingga anda terpaksa perlu memperlihatkan gambar mengenai kondisi dan posisi setting secara menyeluruh, agar penonton tidak penasaran atau kecewa.
Ada pula wawancara dilakukan pada saat subjek sedang melakukan kegiatannya (in action). Tehnik ini memerlukan konsentrasi cukup tinggi, terutama perekam suara (sound man) harus selalu siaga, dipihak lain penata kamera pun harus mampu mengikuti gerak langkah subjek serta mengamati setiap sudut pengambilan yang estetis dalam menyampaikan informasi visual. Sekarang gaya seperti ini banyak dilakukan karena dianggap adegan wawancara menjadi lebih hidup, variatif dan dinamis, ketimbang hanya menampilkan  komposisi gambar  (shot) wawancara yang statis.
Melakukan shot wawancara yang panjang akan menimbulkan rasa bosan pada penonton, apabila anda terpaksa melakukannya karena suatu alasan kuat, maka perlu melakukan variasi sudut pengambilan (camera angle & type shot). Bila shot panjang wawancara tak begitu beralasan maka sisipkan (insert) sejumlah shot lain yang berkaitan dengan isi wawancara. Apabila subjek yang di wawancara memiliki gaya berbicara yang ekspresif, ini memiliki alasan untuk melakukan shot panjang, tetapi tetap dengan sudut kamera dan tipe shot yang variatif.

KOMPOSISI ADEGAN WAWANCARA
Sutradara memperhitungkan posisi kamera sesuai estetika komposisi dan posisi subjek yang diwawancarai. Situasi wawancara seperti yang sudah diterangkan diatas bahwa dapat dalam posisi diam atau posisi bergerak dan posisi duduk atau berdiri. Kameraman dokumenter umumnya sudah terbiasa dengan situasi demikian. Bila kondisi wawancara dalam keadaan bergerak maka perlu selalu mengatur titik ketajaman lensa (focus) dan mengatur komposisi frame dalam mengikuti gerak subjek. Disamping itu anda harus terus mengontrol kondisi pencahayaan yang stabil dalam posisi yang berpindah-pindah. Meski membutuhkan kerja ekstra, akan tetapi gaya ini sangat dinamis dan lebih menarik untuk dilihat penonton.

Ada 3 posisi umum ketika perekaman gambar saat wawancara :
1.  Arah pandang subjek yang diwawancarai menatap lurus/langsung ke kamera.
2.  Sudut kamera tidak berhadapan langsung, tetapi agak miring ke kiri/kanan. Sehingga menimbulkan kesan bahwa subjek sedang berdialog dengan seseorang, yang tidak terlihat didalam layar (off screen).
3.  Baik pewawancara maupun yang diwawancarai tampak dalam layar (on screen).

Pada posisi pertama, dimana subjek yang diwawancarai menatap langsung ke kamera, ini akan memberi kesan wibawa dari tokoh tersebut. Selain itu sang tokoh melakukan kontak langsung dengan penonton. Posisi ini biasanya sangat disenangi oleh tokoh pejabat, dengan tujuan memberi kesan wibawa, tapi juga kesan keintiman dengan masyarakatnya.
Pada posisi kedua, dengan tidak menatap langsung ke kamera, karena posisi sudut pengambilan agak menyamping. Ini memberi kesan wawancara tersebut dilakukan dengan santai. Unsur wibawa agak berkurang, bahkan berkesan informal, bersahabat, kadang memiliki unsur anekdot.
Posisi ketiga, subjek dan pewawancara muncul di frame on screen, biasanya dilakukan pada reportase. Dalam dokumenter kadang dilakukan pula posisi ini, menempatkan kedua pihak didalam frame, dengan tujuan menampilkan kesan konfrontasi.

Setiap posisi yang akan di pilih harus memperhitungkan atau memikirkan mengenai, sejauh mana anda ingin menarik publik untuk terlibat dalam film tersebut. Tentu saja mengenai sudut pengambilan kamera, perlu didiskusikan dengan penata kamera yang punya hak penuh dalam hal ini. Sedangkan sutradara harus lebih memperhatikan subjek yang akan diwawancarainya. Misalnya ekspresi apa yang ingin di dapat dari subjek, bagaimana kondisi pakaiannya, serta bagaimana komposisi latar belakang yang akan di pakai ketika wawancara. Komunikasi sutradara dengan penata kamera mengenai kesan apa ingin didapat dari subjek yang diwawancarai, sangat membantu dalam menempatkan posisi kamera (camera angle) dengan tepat.

ETIKA WAWANCARA
Banyak kesalahan dilakukan para reporter televisi kita ketika melakukan wawancara baik untuk berita, feature maupun dokumenter. Ada beberapa hal perlu diperhatikan sutradara dalam melakukan wawancara, khususnya berkaitan dengan etika ketika meminta informasi dari subjek. Ini penting karena bisa saja sikap anda sendiri yang menyebabkan kegagalan dalam wawancara.
q  Disaat melakukan wawancara mata anda harus menatap pada orang yang sedang anda wawancarai, sehingga dia merasa mendapat perhatian penuh. Harus di ingat bahwa pewawancara adalah pihak yang meminta penjelasan/informasi. Dengan memberikan perhatian penuh maka pihak yang di minta penjelasannya merasakan suasana persahabatan, saling menghormati dan rasa percaya kepada orang yang mewawancarainya.
q  Ada baiknya memulai wawancara dengan mengajukan pertanyaan yang sifatnya mudah atau umum. Sehingga ketika masuk pada pertanyaan khusus, suasana perasaan dan pikiran subjek sudah mantap. Bagaimana ekspresi wajah anda ketika mengajukan pertanyaan juga berpengaruh pada subjek, entah itu dapat memberi suasana santai atau bahkan sebaliknya.
q  Perhatian utama juga perlu diberikan ketika menyusun daftar pertanyaan. Meskipun kadang pertanyaan dapat berkembang saat wawancara, tetapi menyusunnya lebih dulu sebelum wawancara, akan berguna untuk memantabkan  benang merah dan mendapatkan informasi yang lebih terperinci.
q  Jangan terlalu angkuh dengan memperlihatkan kepintaran kita dalam mengajukan pertanyaan dengan bahasa ilmiah (intelektual) terhadap subjek. Karena selain menyebabkan subjek merasa rendah diri juga menyebalkan bagi penonton. Setiap sikap dan materi pertanyaan harus disesuaikan dengan siapa anda melakukan wawancara, dan gunakan bahasa verbal yang komunikatif bagi telinga umum. Perlu di ingat, bahwa anda sedang meminta informasi dari subjek bukan memberikan penyuluhan
q  Anda bukan melakukan wawancara untuk sebuah liputan berita, jadi jangan menginterupsi atau memotong saat subjek sedang memberikan jawabannya, meskipun terasa panjang atau bertele-tele. Karena subjek akan merasa anda tidak tertarik pada jawabannya itu. Akibatnya suasana wawancara akan menjadi kaku karena motivasi subjek sudah berkurang, atau mungkin saja akhirnya subjek menghentikannya. Bila memang subjek terlalu berkepanjangan dalam menjawab pertanyaan sehingga terjadi pemborosan bahan baku, maka lakukan pemotongan wawancara dengan sikap yang sangat simpatik.


Catatan akhir :
Membuat dokumenter berarti bertutur/bercerita dengan gambar berdasarkan wawasan dan kreatifitas visi visual anda, bedakan metode reportase dengan dokumenter. Membuat feature diawali dengan menuliskan narasi yang sebanyaknya, kemudian gambar direkam sesuai apa yang tertulis di narasi, ini sangat bertolak belakang dengan dokumenter, dimana gambar bercerita (bahasa visual) itu merupakan tujuan utama, narasi hanya sebagai pelengkap/pendamping informasi bila gambar tak mampu mengetengahkannya.

Membuat dokumenter berbeda dengan pemikiran membuat reportase, sehingga tak akan bisa membuat dokumenter yang baik apabila metode kerjanya sama seperti membuat liputan berita ‘on the spot’, datang ke lokasi langsung rekam peristiwanya (shooting). Riset/Hunting adalah jantung dari dokumenter, tanpa riset anda hanya bermimpi bila dapat membuat dokumenter yang bermakna dan menarik.