Senin, 29 Oktober 2012

Menulis Treatment untuk sebuah peoduksi Dokumenter, tentunya bervariasi, tergantung pada selera atau tehnik dari setiap Sineas Dokumenter. Satu hal yang mutlak adalah para pembaca dapat memahami serta mengikuti jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Tentunya jalan cerita yang rasional dan sesuai logika dari sebuah peristiwa realita yang nyata dan bisa dipercaya. 
Dibawah ini saya mencoba memberikan contoh Treatment, sesuai dengan gaya saya. 



TREATMENT
54 menit

Judul:  “ pelangi ku tertutup debu ”

Potret anak jalanan Jakarta
Oleh:  Gerzon.R.Ayawaila


Suasana kota Jakarta siang hari, kepadatan dan kesemerawutan lalu lintas merupakan pemandangan tiap hari.
Tampak jejeran panjang puluhan kendaraan berhenti di perempatan lampu merah, kemudian anak-anak pengamen, ditambah dengan para penjaja koran, pedagang asongan, dan pengemis sibuk berseliweran diantara kendaraan yang berhenti menunggu lampu hijau menyala.
Sebagian pengendara merasa tidak nyaman berkendaraan, sehingga ada yang menutup rapat jendela mobilnya meskipun ada pula yang memberi sedekah pada pengamen cilik.
[Dapat dimaklumi karena sekarang ini, para penjahat melakukan modus operandi mereka dengan cara menyamar menjadi pengemis atau pengamen di jalanan (scene candid camera]

Kota Jakarta di malam hari, masih terlihat kepadatan kendaraan, terutama di perempatan lampu merah. Para bocah pengamen dan pengemis tampak masih berusaha mengumpulkan receh demi receh dari pengendara mobil yang berhenti di lampu merah. Sedangkan di tepi jalan tampak sejumlah ibu-ibu sedang menunggui anak-anak mereka yang sedang mengamen atau mengemis di jalanan.
Di sisi jalan lainnya tampak deretan warung makan menyemarakan kehidupan malam ibu kota, beberapa pengamen mencoba mendapatkan recehan dari pengunjung warung yang sedang menikmati santapannya.

Suasana pagi hari rumah singgah ‘Nusantara’ di Jakarta Selatan. Sebagian anak tampak baru selesai mandi, sedang yang lainnya menunggu giliran mandi, beberapa anak perempuan menyiapkan sarapan pagi, di pojok ruangan terlihat beberapa anak masih tergolek nyenyak di lantai. Bagi anak rumah singgah yang disekolahkan, tampak mereka bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah.
Tak lama kemudian Gareng pengelola rumah singgah muncul lalu membangunkan anak-anak yang masih tergolek. Anak jalanan penghuni rumah singgah dibiasakan bangun pagi, kadang mereka melakukan olah raga pagi.
Akan tetapi biasanya tidak semua anak ikut karena ada yang harus ke sekolah, dan banyak pula anak-anak ini yang masih lelah dan ngantuk, karena baru pulang menjelang subuh.

Siang hari di perempatan lampu merah, sejumlah kendaraan berhenti menunggu lampu hijau menyala. Lestari dengan gitar kecilnya (jukulele) sambil bernyanyi, menghampiri satu demi satu kendaraan yang sedang berhenti, ada pengendara yang memberikan uang receh. Lelah mengamen di jalanan karena panas matahari, Lestari lalu berpindah mengamen ke dalam bis kota yang sedang melaju dijalanan. Umumnya para penumpang bis selalu memberikan uang receh pada anak-anak pengamen.
Setelah lelah mengamen Lestari beristirahat dibawah pohon, kemudian dia menceritakan kisah hidupnya yang penuh penderitaan.
(Note: Orang tuanya bercerai, setelah Ibunya lari meninggalkan ayahnya yang pemabuk dan sering memukuli istri dan anak-anaknya. Melihat kondisi ekonomi ibunya yang sangat miskin, Lestari terpaksa mencari uang dengan mengamen. Uang hasil mengamen di simpan dan sebagian diserahkan kepada ibunya untuk menghidupi adik-adiknya yang masih kecil. Ayahnya yang pemabuk tak memperdulikan kondisi keluarga lagi, kadang suka pulang ke rumah hanya untuk meminta uang hasil mengamennya dengan cara memaksa, bila tidak dikasih Lestari dipukuli. Tak tahan terhadap prilaku ayahnya, Lestari kabur dari rumahnya. Sejak itu hidup nya pun selalu berpindah dari jalanan ke rumah singgah, dan dari satu rumah singgah ke rumah singgah lainnya. Dari Jakarta ke Bandung terus ke Jogyakarta kemudian kembali lagi mengembara di Jakarta.)

Dari jam 5 subuh hingga jam 11 pagi Udi dan Ajum bekerja memulung sampah dari rumah ke rumah. Apabila sampah rumahan kurang memuaskan maka mereka meneruskan pencariannya sampai ke pasar Minggu. Bersama adik dan orang tuanya mereka tinggal di rumah gubuk sempit, sehingga anak-anak pria seperti Udi dan Ajun saudaranya, terpaksa tidur di emperan rumahnya.
Mereka sudah terbiasa apabila setiap saat mereka harus pindah tempat, karena rumah mereka dibongkar petugas kebersihan dan penertiban kota. Udi memiliki saudara kandung dan saudara tiri yang cukup banyak.
Tumpukan sampah tampak bertebaran disekitar gubuknya, keluarga ini tak sempat memikirkan kondisi kesehatannya. Sehingga Udi dan beberapa saudaranya menderita penyakit TBC.
Setelah kembali dari memulung sampah, lalu ayah dan ibunya memilah-milah sampah dan di kumpulkan terpisah berdasarkan jenis sampah. Kemudian sampah-sampah itu dimasukan kedalam kantung besar, selanjutnya di jual kepada juragan sampah (kamera akan mengikuti kehidupan sehari-hari dari setiap anggota keluarga Udi).
Setelah selesai memulung sampah, siang harinya bersama saudaranya Ajum, berdua mereka pergi ke rumah belajar. Keduanya tak pernah mengecap bangku sekolah umum, karena kondisi ekonomi orang tuanya yang sangat lemah. Oleh karena itu dengan penuh semangat keduanya menganggap rumah belajar ini, sebagai sekolah formal mereka.

Suasana di sebuah Rumah Singgah Belajar di Jakakarsa cukup ramai dengan suara anak-anak pengamen dan pemulung, bahkan ada pula anak pengungsi dari Ambon, yang sedang memperhatikan pelajaran yang diberikan oleh para pengasuh dan pengajar freelance. Anak-anak miskin yang datang ke sini, ada yang masih bersekolah tapi ada pula yang memang tak pernah duduk di bangku sekolah umum. Hubungan antara pengajar dengan anak-anak tersebut terasa sangat akrab.
Dewi salah satu pengajar mengatakan bahwa, diperlukan kesabaran cukup tinggi, dalam memberikan pelajaran kepada anak-anak ini. Karena mereka biasa hidup keras dan tidak beraturan, sehingga mereka tidak begitu terbiasa dengan aturan-aturan sekolah. Oleh karena itu sistim pengajaran di rumah belajar ini disesuaikan dengan keinginan dan kemampuan belajar dari masing-masing anak.
Dewi menuturkan bahwa, pada awalnya sangat sulit untuk mengajak anak-anak ini datang kerumah belajar. Pengelola rumah belajar sering konflik dengan para orang tua anak-anak ini, karena ada orang tua yang lebih senang anaknya mencari uang dengan mengamen atau mengemis, ketimbang menuntut ilmu di rumah belajar.
(Note: Rumah singgah belajar ini juga memberikan bantuan kesehatan bagi anak didiknya. Seperti Udi yang mendapat pengobatan gratis bagi penyakit TBC nya).

Di persimpangan jalan raya Jakarta tampak sejumlah anak kecil sedang mengamen, disela-sela kendaraan yang sedang berhenti menunggu lampu hijau menjala. Diantaranya terlihat Amin sedang mengamen dengan alat bunyi-bunyiannya yang sangat sederhana.
Amin berjalan dari satu mobil ke mobil lainnya. Ketika lampu hijau menyala, anak-anak pengamen itu berlarian menepi ke pinggir jalan, karena kendaraan bergerak maju melanjutkan perjalanannya. Amin menceritakan bahwa dia diharuskan oleh orang tuanya untuk mengamen, bila dia tak mau sering dimarahi orang tuanya, yang kadang menungguinya di pinggir jalan.

Menjelang magrib Amin pulang ke rumah singgah ‘Nusantara’. Suasana rumah singgah menjelang malam biasanya cukup ramai, karena sebagian besar anak yang dari siang mengamen pulang.
Ada yang sedang makan, ada yang menonton televisi, sebagian duduk di luar rumah sambil ngobrol atau bermain musik sambil bernyanyi bersama.
Siti kakak perempuan Amin biasanya ketika melihat adiknya pulang, langsung menyuruhnya mandi. Mereka berdua selama ini tinggal di rumah singgah, meski sebenarnya mereka masih memiliki orang tua yang tinggal di tempat lain. Bila orang tua mereka datang menjenguk ke rumah singgah, tujuannya hanya untuk meminta uang hasil kerja mereka mengamen, bahkan sering diminta dengan paksa. Bahkan dulu ketika masih tinggal bersama orang tuanya, Amin sering dipukuli ayahnya bila tidak mau mengamen.

Data Riset: (Banyak orang tua yang menyuruh paksa anak mereka mengamen atau mengemis, bahkan disertai tindak kekerasan) Di rumah singgah anak jalanan sering terjadi hal-hal yang tidak terduga, seperti orang tua yang mengambil anak mereka dengan cara paksa dari rumah singgah. Ada anak-anak yang tidak mau ikut karena takut perlakuan orang tua mereka yang kejam, misalnya sering di pukul ayahnya serta selalu meminta paksa uang hasil mereka mengamen. Sebagian anak justru menabungkan hasil keringat mereka itu pada pengelola rumah singgah, ini menandakan bahwa mereka lebih percaya pada pengasuh rumah singgah daripada orang tua kandungnya sendiri.

Kadang pengelola rumah singgah seperti Gareng berusaha melindungi anak-anak asuhannya, dari tindakan kekerasan orang tua anak.  Selain itu Gareng sebagai pengelola rumah singgah ‘Nusantara’ sering pula berurusan dengan polisi, apabila ada anak asuhnya diangkut petugas penertiban kota saat dilakukan razia mendadak bagi para pengemis dan penduduk yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk. Biasanya Gareng langsung mendatangi tempat penampungan, setelah berunding dengan petugas jaga dan memberikan uang tebusan, baru anak asuhnya dapat dibebaskan.
Gareng juga mengurusi anak asuhnya yang mendapat kecelakaan di jalanan, bahkan ada yang tewas tertabrak mobil sedang pengendaranya kabur. Kemudian jenasah korban di bawa ke rumah sakit umum pusat, untuk dimandikan dan di kebumikan bersama dengan mayat tak dikenal lainnya secara massal. (Gareng menceritakan bahwa, dia pernah tidak menemukan jenasah anak asuhnya yang tewas tertabrak mobil, dia menduga anak asuhnya itu sudah di kebumikan secara massal).

-ooo0ooo-