Kamis, 30 Agustus 2012

MENJADI SINEAS DOKUMENTER



 Gerzon Ayawaila

Seperti sudah dinyatakan bahwa dokumenter merupakan karya film berdasarkan realita dan fakta dari suatu pengalaman hidup seseorang atau sebuah peristiwa sejarah. Maka untuk mendapatkan ide bagi film realita, kepekaan terhadap lingkungan sosial, budaya, politik dan alam semesta, disertai rasa ingin tahu yang besar dengan membaca, berkomunikasi antar manusia dalam pergaulan, merupakan sumber inspirasi yang tak akan habis. Ide cerita untuk film dokumenter di dapat dari apa yang anda lihat dan dengar, bukan berdasarkan suatu hayalan yang sifatnya imajinatif. Untuk mendapatkan ide bagi sebuah produksi film dokumenter adalah tidak semudah mencari ide untuk cerita fiksi. Ide tema bagi dokumenter hanya dapat diperoleh dari apa yang dilihat dan didengar. Seorang dokumentaris harus banyak membaca, banyak mengamati lingkungannya, sering berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat, berdiskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas sosial dan budaya.
Dari hasil observasi dan analisa terhadap apa yang kita baca, lihat dan dengar, maka barulah dapat di olah menjadi sebuah ide untuk membuat dokumenter. Jangan terlalu cepat puas dengan ide yang baru di dapat, karena kadang sebuah tema hanya di awal nya saja menarik, tetapi setelah di evaluasi lebih lanjut malah hampa dan membosankan. Demikian pula dengan subjek yang akan kita seleksi, harus dilakukan secara teliti dengan melakukan seleksi dan pendekatan yang baik.
Dalam mencari dan menemukan ide dapat didasari oleh dua motivasi, yaitu motivasi pribadi dan motivasi sponsor atau produser.  Motivasi pribadi itu berdasarkan ide pribadi yang muncul karena kita tertarik pada subjek untuk dijadikan tema film dokumenter. Motivasi kedua adalah kita hanya menjadi tim kreatif untuk memproduksi pesanan dari stasiun televisi, rumah produksi, lembaga pemerintah, swasta dan asing. Motivasi pertama meskipun lebih berat tetapi lebih memuaskan diri anda, tetapi anda harus mampu meyakinkan orang lain mengenai ide tersebut dengan harapan ada sponsor yang tertarik. Apabila motivasi anda kurang kuat maka ini akan berpengaruh pada presentasi pada sponsor, dan tentu akibatnya akan mengalami kebuntuan sumber dana, selanjutnya dapat mengganggu motivasi untuk terus bekerja hingga karya tersebut selesai. Disini perlunya dokumentaris memiliki tim kompak, karena didasari kebersamaan motivasi yang kuat maka diantara tim harus saling mendukung. Motivasi kedua tak perlu dibicarakan panjang lebar karena sebagai tim kreatif kita tinggal mengerjakan pesanan, meskipun tak jarang ada pula kendala saat presentasi karya akhir serta pelunasan biaya produksinya, terutama bila berhadapan sponsor yang awam atau nakal.

Tema & Subjek

Hal awal yang perlu anda tetapkan adalah konsep bagi tema dan subjek yang telah dipilih. Ada tiga hal yang mendasar yang perlu anda mantapkan yaitu;
  • Apa yang akan  anda buat atau produksi ?.
  • Bagaimana anda akan membuatnya ? (kemasan, gaya, pendekatan, bentuk) ?.
  • Untuk apa dan siapa film ini anda produksi ? (target/sasaran komunitas)
Ketiga hal ini harus di jawab dengan mantap, sebelum melangkah ke proses berikutnya. Meskipun sederhana tetapi kadang ketiga hal dasar diatas ini membutuhkan waktu perenungan panjang dan analisa mendalam. Para pemula umumnya tidak memikirkan serta menentukan dengan mantap ketiga dasar konsep diatas yang seharusnya menjadi titik tolak untuk merealisasikan ide mereka memproduksi film dokumenter.

Aktual atau Non-Aktual ?
Tema dokumenter tidak sepenuhnya mengacu pada peristiwa aktual, kadang justru dari peristiwa yang tidak aktual dapat menjadi aktual setelah direpresentasikan melalui film dokumenter. Meskipun tidak dipungkiri laporan faktual dapat dijadikan ide dan tema. Dari sebuah peristiwa kita menyelam ke akar permasalahannya yang merupakan suatu sebab akibat. Sehingga isi representasi tidak hanya sekedar lintasan informasi global dan tidak terjebak pada kulit permasalahannya saja. Bila sensasi menjadi sumber ide pemburu berita, justru bagi dokumenter murni menonjolkan sensasi dapat mengurangi bobot fakta. Kecuali pada dokumenter propaganda, dimana sensasi menjadi menu utama untuk memanipulasi fakta.
Dapat saja terjadi bahwa tema dan subjek yang akan anda garap akan di produksi pula oleh pihak lain atau mungkin pernah disiarkan stasiun televisi. Maka logis hal ini akan menimbulkan keraguan untuk terus dengan rencana semula serta tema yang sudah diputuskan itu atau membatalkannya?. Untuk menganalisa dan menetapkan tema dan subjek yang akan digarap, ada baiknya tidak selalu melihat tema dan subjek yang di pilih itu dari sudut pandangan publik. Tetapi justru konfrontasikan pengaruh pribadi anda terhadap subjek dan tema yang merupakan ide anda itu. Dengan demikian anda akan lebih berani menciptakan ide kreatif dengan arah dan pendekatan gaya yang lebih segar.
Untuk menetapkan apakah anda akan jalan terus atau membatalkannya, dibawah ini ada beberapa pertanyaan yang perlu di jawab, sebelum melangkah pada keputusan akhir.
  1. Apakah anda sudah memahami serta menguasai tema dan subjek tersebut secara mantap ?. Tetapi bukan pemahaman yang kaku atau dogmatis.
  2. Apakah anda memiliki ikatan emosi kuat dengan subjek tersebut ?, meskipun sebenarnya ada subjek lain, yang secara praktis lebih mudah digarap.
  3. Apakah antara ide, tema, dan subjek memiliki kecocokan ?.
  4. Apakah ada usaha dan motivasi kuat untuk lebih lanjut mendalami subjek yang telah kita amati itu ?.
  5. Apakah subjek memiliki arti penting yang mendasari pokok pemikiran ide anda ?.
  6. Hal-hal apakah yang luar biasa menariknya dari tema  dan subjek tersebut?.
  7. Dimana hal-hal khusus, unik serta berkesan dari subjek tersebut ?.
  8. Bagaimana pendalaman serta pembatasan yang dapat difokuskan, agar film menjadi menarik dan berkesan ?.
  9. Apa yang akan dan dapat di presentasikan dari dokumenter ini, melalui gaya pendekatan yang segar dan baru ?.
Untuk memantapkan semua pertanyaan di atas ini, perlu dilakukan riset yang mendalam terhadap subjek yang akan di garap pengalaman hidupnya. Adalah sangat berguna apabila anda melakukan kunjungan beberapa kali ke lokasi subjek, ini merupakan suatu proses pendekatan terhadap subjek serta lingkungannya. Melakukan kunjungan beberapakali kepada subjek dan lingkungannya sangat membantu dalam memberikan rasa percaya bagi subjek, berkaitan dengan kisah pengalaman hidupnya yang akan di rekam. Disamping itu anda dapat memperhitungkan walaupun masih secara kasar, mengenai jumlah anggaran biaya yang diperlukan bagi produksi nanti. Sekaligus memperkirakan lamanya jadwal dan sistim kerja yang harus diterapkan nanti, ketika melakukan shooting.

Riset
Pengertian riset adalah mengumpulkan data/informasi dengan melakukan observasi mendalam terhadap subjek dan lingkungannya, sesuai tema yang akan di ketengahkan di  dalam film. Pelaksanaan riset ada yang di lakukan oleh tim riset khusus dan adapula yang  dilakukan sendiri oleh penulis naskah merangkap sutradara. Selain penulis dan sutradara harus terjun langsung ke lapangan, juga perlu melakukan kerja sama dalam mengumpulkan informasi dengan pakar disiplin ilmu lain. Apabila anda sudah menentukan gaya dan bentuk penuturan apa yang dianggap sesuai dengan isi dan tema film yang akan digarap, maka ini mempermudah pelaksanaan selanjutnya di dalam riset.
Ketika mulai melakukan riset ada baiknya prioritaskan lebih dulu pada hal-hal yang praktis. Perlu di ingat bahwa film hanya dapat dibuat berdasarkan dari apa yang dapat di rekam oleh kamera. Oleh karena itu saat anda melaksanakan riset, harus selalu memperhatikan dan memikirkan aspek-aspek yang ada untuk kepentingan gambar visual. Seorang dokumentaris atau sineas dituntut memiliki visi visual (kepekaan visualisasi), ini bisa berasal dari bakat alam (talenta) yang dibentuk melalui pendidikan sinematografi. 
Jalinan kerja sama antara Tim Riset, Penulis dan Sutradara, harus serasi serta saling mengisi, karena komunikasi di antara mereka akan terus berlangsung hingga menuju tahap penyelesaian penulisan naskah (script). Diantara mereka juga harus saling membatasi diri pada profesi masing-masing, tanpa harus mencampuri hal-hal yang bukan tugas atau urusannya.
Dengan melakukan riset pendahuluan (preliminary research) dapat membantu mendapat gambaran untuk mengembangkan ide yang ada menjadi lebih mantap. Hal ini di lakukan melalui analisa visi visual di barengi dengan orientasi kritis. Ide untuk film dokumenter di dapat dari apa yang di dengar dan di lihat, bukan berdasarkan imajinasi. Akan tetapi untuk mendapatkan ide bagus tidak cukup hanya dari mendengar dan melihat saja, karena tidak semua peristiwa penting dapat dijadikan tema film dokumenter. Ide bagus masih membutuhkan orientasi lebih jauh lagi terhadap semua informasi yang telah didapat. Kemudian berdasarkan visi kreatif dikembangkan hingga mencapai kematangan konsep yang menarik. Banyak ide pada awalnya tampak menarik tetapi setelah dilakukan orientasi lebih jauh dan mendalam lagi, terasa bahwa hanya pada awalnya saja menarik tetapi selanjutnya terasa hambar dan membosankan. Demikian pula dengan subjek yang akan kita seleksi, harus dilakukan secara teliti dengan melakukan pengamatan dan pendekatan yang baik. Kemampuan kreatifitas tinggi di imbangi dengan kepekaan analisa visual, merupakan salah satu titik tolak membuat karya dokumenter yang memukau.
Untuk menjawab permasalahan ini maka sangat perlu dilakukan riset, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa motivasi untuk melakukan riset di Indonesia sangat minimal. Padahal untuk menciptakan suatu karya seni maupun ilmu pengetahuan yang memiliki bobot visi dan misi, melakukan riset adalah mutlak.
Melakukan riset berarti melakukan pengumpulan data/informasi yang diperlukan untuk penulisan naskah. Riset untuk dokumenter dilakukan terhadap sumber data dan informasi, yang umumnya dalam beberapa macam atau bentuk data:
  1. data tulisan (buku, majalah, surat kabar, surat, selebaran, dsb.)
  2. data visual (foto,film,video, lukisan, poster, patung, ukiran, dsb.)
  3. data suara (bunyi-bunyian, musik, lagu, dsb.).
  4. data mengenai subjek, nara sumber, informan.
  5. data lokasi (tempat kejadian/peristiwa).
Berangkat dari hasil riset di bentuk suatu kerangka global mengenai arah dan tujuan penuturan, serta subjek-subjek yang akan menjadi tokoh (karakter) di dalam tema film. Kemudian penulis naskah dan sutradara mengevaluasi transkrip hasil riset, untuk mengetahui serta menetapkan dengan pasti:
q  Mana informasi yang penting dan yang kurang penting.
q  Bagian informasi mana yang perlu diperdalam dan diperluas lagi.
q  Pada bagian mana sebab dan akibat dari peristiwa, dapat digunakan sebagai penunjang aspek dramatik. Ini penting agar anda dapat menyusun struktur penuturannya.
q  Mana bagian utama dan mana bagian pelengkap untuk memberikan makna pada film. Ini penting demi efisiensi kerja ketika melakukan shooting nanti, agar anda tak perlu mengalami kekurangan atau kelebihan stock shot.

Baik penulis maupun sutradara harus mengetahui materi apa saja yang diperlukan guna melengkapi visual, yang tak ditemui atau yang tak dapat di shot di lokasi peristiwa. Misalnya pengumpulan materi film/video (footage) dari lembaga arsip, museum, dan sinematek. Kadang kita juga perlu membeli dari stasiun televisi atau perusahaan film swasta atau pemerintah. Bila kita membuat film kompilasi maka seluruh materi berdasarkan dari arsip/dokumentasi (footage) film/video, yang harus dikumpulkan dan di seleksi dalam waktu cukup lama. Dokumentaris Belanda, Vincent Monikendam yang membuat film dokumenter kompilasi berjudul “Mother Dao”, mengatakan bahwa untuk filmnya ini dibutuhkan waktu dua tahun lebih untuk mengumpulkan dan menyeleksi materi footage yang terdiri dari potongan-potongan film hitam putih lama. Film dokumenter Monikendam merupakan kompilasi dari arsip film hitam-putih yang di rekam di Indonesia sejak tahun 30an hingga 50an.
Sangat membantu bila menggunakan alat perekam audio (tape recorder), ketika melakukan riset, untuk mewawancarai orang-orang yang akan dijadikan subjek atau nara sumber. Karena dari hasil rekaman suara sutradara dapat mengetahui apakah subjek memiliki volume vokal yang keras atau lembut, artikulasinya jelas atau tidak, kemudian ritme dan gaya berbicaranya membosankan atau tidak, bagaimana mimiknya (ekspresi) bila berbicara dan seterusnya. Kegunaan lainnya ialah apabila subjek anda belum pernah diwawancarai, maka dengan tape recorder dapat melatih atau membiasakan dirinya, terutama bila nanti dihadapan sorotan kamera.

Subjek Utama dan Nara Sumber
Didalam merancang atau menyusun penulisan naskah, peranan antara tokoh dan nara sumber perlu dijelaskan. Tokoh atau subjek utama didalam film dokumenter memiliki peranan fungsional untuk mengetengahkan realita dari suatu peristiwa, dengan tujuan memberikan sentuhan dramatik pada cerita anda. Sedangkan nara sumber dapat berperan sebagai sumber informasi saja atau dapat pula sebagai subjek pembantu. Akan tetapi jangan terlalu diabaikan karena subjek pembantu juga dapat mengentalkan unsur dramatik.
Sejumlah pertanyaan di bawah ini perlu dikaji sebagai cara melakukan seleksi, untuk menemukan subjek yang betul-betul tepat sesuai dengan tema.
q  Dengan mengacu pada hasil riset, penulis dan sutradara dapat menganalisa, apakah subjek yang di pilih sudah tepat sebagai pemeran atau sebagai nara sumber ?.
q  Apakah peranan tokoh ini sebagai informan cukup penting, serta mampu mengekspresikan tema tersebut dan memberikan unsur dramatik?.
q  Apabila peran subjek hanya sebagai nara sumber, maka menampilkannya cukup liwat komentar atau narasi saja (off screen) dilengkapi dengan ilustrasi gambar.
q  Apabila mengenai suatu aksi, penulis harus menganalisa apakah aksi dari subjek tersebut yang perlu ditampilkan dalam cerita atau tidak ?.

Mengetengahkan gaya bertutur potret/biografi dengan subjek yang sudah tidak ada (wafat) perlu pendekatan khusus untuk menentukan aspek kreatif dalam penyuguhannya. Maka untuk mengisi sugesti dari ketidak hadiran sang tokoh, ditampilkan hal-hal yang berhubungan erat dengan kehidupan si tokoh. Misalnya menampilkan nara sumber  yang sangat dekat dan intim dengan subjek, seperti teman, saudara, kerabat keluarga, sekaligus sebagai saksi hidup yang mengetahui  perjalanan hidup dan peranan si tokoh didalam peristiwa itu. Atau dapat pula menampilkan benda-benda atau materi yang merupakan identitas dan simbol dari figur si tokoh. Pendekatan ini dapat memberikan perincian kongkrit, sebagai sketsa dari ketidak hadiran sang tokoh tersebut.
Teori film mengatakan bahwa setiap penonton akan mengidentifikasikan dirinya pada salah satu tokoh dalam cerita film. Hal ini dilakukan karena simpati atau semacam pengenalan diri (identitas) dari si penonton itu sendiri, dimana sikap ini dilakukan tanpa sadar. Beranjak dari teori ini, tak ada salahnya menggunakan metode tersebut untuk memilih tokoh-tokoh serta membangun karakter yang akan dimunculkan pada film.

Pendekatan subjek

Pendekatan terhadap subjek merupakan proses penting, dari mulai riset hingga shooting nanti. Pendekatan seorang dokumentaris berbeda dengan pendekatan riset para ilmuwan sosial seperti antropolog atau sosiolog terhadap respondennya. Metode riset dan pendekatan untuk film dokumenter bukan melalui pengumpulan kuesioner atau angket yang biasa dilakukan dalam suatu penelitian sosial. Akan tetapi dokumentaris harus terjun langsung dan mengadakan komunikasi (dialog) antar manusia yang sederajat dengan subjeknya, bahkan idealnya, sineas dokumenter tinggal bersama subjeknya untuk memahami bagaimana kehidupan dan karakter subjek dalam keseharianya. Baik buruknya pendekatan yang anda lakukan terhadap subjek, itu akan terlihat pada saat melaksanakan perekaman gambar shooting dan wawancara.
Dokumentaris harus memahami betul bagaimana subjek menilai dirinya sendiri serta menilai dunia diluar pribadi dan lingkungannya (view from within and view from without). Kita tak bisa memahami subjek secara generalisasi atau komparatif seperti yang diterapkan dalam metode riset ilmu sosial. Dokumentaris harus observasi langsung terhadap objek atau subjeknya, dari situ baru di dapat suatu visi untuk kepentingan visual.
Pendekatan juga merupakan suatu langkah awal produksi, untuk menciptakan suatu komunikasi antar manusia. Komunikasi antara tim produksi secara intern, serta kominunikasi dengan subjek serta lingkungan terkait seperti birokrasi setempat. Pendekatan yang baik akan memberi rasa intim pada subjek, sehingga dapat memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang nanti akan merekam, wajah, suara, serta kisah hidupnya. Sebab itu anda perlu melakukan kunjungan beberapa kali terhadap subjek, atau tinggal bersama subjek selama melakukan riset hingga shooting. Tindakan ini dapat menghilangkan kesan asing dari diri subjek terhadap anda, selain itu dapat lebih mendalami normalisasi kehidupan subjek, yang mungkin sebelumnya luput dari pengamatan. Selain itu keintiman hubungan dokumentaris dengan subjek akan lebih terjalin lagi. Dan jangan lupa, dalam melakukan kunjungan beberapa kali, perlu selalu mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan baru, untuk melengkapi data riset.
Kunjungan yang berkesinambungan dengan pendekatan khusus lebih diperlukan pada dokumenter sejarah, demikian pula pada bentuk portret biografi. Pendekatan pribadi yang intim hasil kunjungan beberapakali, akan membuat subjek merasa lebih percaya dan lebih bebas menceritakan tentang dirinya. Hal ini sangat bermanfaat bagi pengumpulan informasi yang di butuhkan, terutama data/informasi yang di anggap peka (sensitif) bagi subjek dan lingkungannya.
Apabila subjek anda adalah masyarakat awam maka saat melakukan kunjungan awal cukup hanya membawa buku catatan kecil saja, jangan perlihatkan kesan terlalu formil kepada subjek, yang mana dapat menimbulkan rasa gugup bagi subjek. Mengenai apa yang sudah kita ketahui mengenai diri subjek serta informan atau nara sumber mana saja yang sudah dihubungi untuk mengorek informasi mengenai subjek, perlu kita jelaskan. Jangan menutupi atau bersikap yang dapat menimbulkan kecurigaan subjek terhadap anda. Berilah kesempatan pula bagi subjek untuk menanyakan hal-hal mengenai diri anda dan tim kreatif lainnya, agar rasa percaya serta hubungan antar pribadi menjadi lebih erat. Kadang dapat terjadi di saat melakukan wawancara ada informasi yang terlewatkan, hal ini disebabkan adanya rasa tegang dalam diri subjek, sehingga mengganggu dan menghambat daya ingatnya. Hal ini perlu diperhatikan, karena tidak mudah untuk berbicara secara lancar dihadapan sorotan kamera.

Observasi Partisipan

Metode penelitian yang dilakukan pada ilmu Antropologi Budaya dengan cara melakukan observasi partisipasi. Metode dan teori ini dikembangkan oleh Antropolog B.Malinowski ketika melakukan penelitian pada masyarakat etnik Trobiand di daerah Papua Nugini. Dimana dilakukan suatu interaksi mendalam antara si peneliti dengan pihak-pihak yang diteliti (responden). Malinowski berpendapat bahwa, suatu hasil penelitian yang baik dan akurat akan berhasil, tergantung dari berapa lama si peneliti tinggal dan bergaul di dalam masyarakat yang ditelitinya itu. Makin lama si peneliti bergaul dan tinggal bersama para respondennya itu, maka hasil penelitiannya pun makin memiliki bobot akurasi yang memuaskan.
Metode riset partisipasi observasi dapat di terapkan dalam kepentingan riset bagi film dokumenter, selain melakukan observasi terhadap subjek, akan lebih baik lagi bila anda ikut berpartisipasi di dalam kegiatan sehari-hari subjek serta lingkungannya. Sehingga rasa kekeluargaan antara tim produksi dengan subjek serta lingkungan masyarakatnya makin terjalin. Selama melakukan partisipasi anda terus melakukan dialog baik formal maupun informal, untuk terus menggali informasi dari subjek yang dapat menambah masukan bagi penulisan nanti. Disamping akan terus memperluas wawasan visi visual dan evaluasi anda terhadap tema, serta subjek. Perpaduan dari pandangan yang berbeda antara dokumentaris dengan subjeknya, akan menjadi bahan olahan yang selalu baru dan terus berkembang.
Selanjutnya baik audio maupun visual yang terekam nanti, merupakan hasil pengamatan dan penilaian anda terhadap pengalaman subjek, dikombinasikan dengan penilaian subjek terhadap pengalamannya sendiri. Dengan demikian akan terekam nanti suatu perimbangan antara subjektifitas dan objektifitas pada suatu peristiwa pengalaman seseorang secara akurat.
Ini merupakan usaha untuk merekam realita peristiwa atau pengalaman hidup seseorang, agar menghasilkan suatu karya dokumenter yang minimal memiliki keseimbangan objektif. Meskipun harus disadari bahwa mencapai tingkat pandangan objektif adalah sebuah obsesi, karena semua teori film sudah di mulai dengan visi subjektif sinematografis. Akan tetapi keutuhan mengetengahkan sebuah fakta peristiwa tetap merupakan tuntutan moral.
Suatu hal penting untuk di ingat bahwa ketika anda melakukan shooting, jarak antara anda sebagai dokumentaris dengan subjek anda harus ditetapkan batasannya dengan jelas. Anda tak boleh hanyut pada emosi yang diekspresikan subjek anda, hal ini dapat mengakibatkan visi objektifitas anda akan terganggu bahkan terpengaruhi oleh subjektifitas opini subjek anda itu. Secara profesional harus disadari bahwa anda sedang membuat film dokumenter, bukan sedang menjadi pendengar yang baik mengenai keluh kesah seseorang.

Mengembangkan Ide dan Konsep
Sebagai langkah awal untuk menawarkan ide, anda perlu menyusun sebuah tulisan naskah rancangan (draft) untuk diajukan kepada pihak-pihak yang berminat. Menulis draft naskah bukan berarti seperti menulis catatan kecil saja, tetapi kita harus menuliskan semua informasi dari transkrip data riset. Umumnya draft naskah di tulis dalam susunan pembagian sekwens (sequence), agar nanti pada saat merampungkannya pada tahap produksi, dapat dijabarkan secara terperinci dalam susunan shot dan adegan yang lebih jelas. Tulisan draft pun harus lengkap dan jelas menerankan ruang dan waktu pada setiap sekwens, karena ini merupakan bagian dari isi proposal yang akan diajukan pada sponsor. Setelah anda menetapkan bentuk penuturan apa yang menjadi gaya dan struktur film anda, maka perlu disampaikan dalam naskah, ini merupakan salah satu daya tarik yang dapat anda ajukan kepada sponsor.
Pada prinsipnya penyusunan konsep naskah film dibagi dalam lima tahapan:
Ide, ini merupakan jantung dari sebuah karya seni, konsep, struktur dan batasan dari isi keseluruhan cerita.
Treatment/outline, merupakan sketsa dasar yang dapat memberikan gambaran pendekatan dan keseluruhan isi cerita. Di pihak lain treatment merupakan materi presentasi untuk menawarkan ide anda kepada produser/sponsor. Treatment mutlak diperlukan bagi documenter, meskipun bentuk treatment tak ada yang baku.
Naskah Syuting (shooting script), sangat penting untuk memberikan gambaran jelas sebagai cetak biru atau master plan. Deskripsi mengenai audio dan visual akan menjadi acuan sutradara untuk menentukan visualisasi shot, susunan adegan hingga sekwens. Naskah syuting juga memberikan kejelasan bagi setiap pihak yang ikut dalam Tim Produksi, agar dapat memahami apa yang harus dikerjakan sesuai dengan profesi dan posisi masing-masing didalam tim produksi.
Naskah Editing (editing script), naskah ini merupakan penentuan visualisasi struktur cerita. Meskipun bentuk penulisannya jauh berbeda dengan shooting script, tetapi isinya dapat saja berlainan mengenai konstruksi shot, adegan (scene), sekwens (sequence).
Tidak aneh bila editing script dapat mengalami beberapa kali perubahan, karena proses editing (penyuntingan) juga melalui beberapa tahapan hingga mencapai hasil akhir (final).
Naskah Narasi (narration script), ini lebih merupakan susunan penulisan narasi yang nantinya akan di bacakan oleh seorang narator sebagai voice over ketika mixing. Umumnya dokumenter sejarah atau biografi menggunakan narasi, juga gaya dokumenter konfensional seperti dalam format penayangan di televisi.
Semua prinsip struktur dalam metode penulisan naskah (script) tak perlu dijadikan suatu peraturan baku, tetapi gunakanlah sebagai alat bantu yang berfungsi menjelaskan apa dan bagaimana film tersebut akan di sampaikan. Setiap struktur cerita baik pada skenario fiksi maupun non fiksi, memiliki logika dan kekuatannya sendiri-sendiri.
Bila membuat film edukasi (pendidikan/penyuluhan) atau instruksional, perlu menetapkan publik yang ditargetkan untuk film tersebut. Misalkan membuat tema mengenai penyakit kangker, bila sasarannya untuk umum maka cukup menjelaskan penyebabnya, gejalanya, serta akibatnya secara umum pula. Karena penonton harus mampu menangkap dan mengerti secara mudah informasi apa yang disuguhkan, dimana realita tersebut dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-harinya. Apabila sasarannya pada kelompok khusus, seperti mahasiswa kedokteran, perawat, petugas penyuluhan kesehatan, maka sutradara perlu mengetahui terminologi medis yang berhubungan dengan suatu penyakit, atau menggunakan penasihat ahli bidang medis.
Dari hasil riset penulis kurang lebih sudah mengetahui bagaimana struktur penuturan yang akan disusunnya. Penulis juga mengetahui gambaran apa yang dapat divisualisasikan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Apabila harus menggunakan materi visual (footage) harus diteliti lebih dahulu apakah masih layak pakai atau tidak. Materi visual yang bisa didapatkan, merupakan faktor penting atau faktor kemudi bagi penulisan dokumenter.
Sering pula terjadi informasi yang terkumpul dari riset terlalu banyak, sehingga penulis kesulitan untuk menyeleksi informasi mana yang tepat untuk tema. Hal utama yang menjadi titik tolak seleksi informasi ialah, penulis dapat mengawalinya dengan mengamati hal utama dari peristiwa, sehingga mampu melukiskan konflik-konflik yang ingin diungkapkannya. Kemudian setelah itu penulis dapat menganalisanya lebih jauh, untuk mengkongkritkan akurasi informasi yang ada, serta yang masih dibutuhkan. Suatu hal yang menjadi kenyataan bahwa tidak ada penulisan skenario yang sempurna, setiap penulis memiliki gaya pendekatan kreatif yang berbeda.
Naskah awal untuk dokumenter biasa dibuat dalam bentuk Treatment, tetapi ada pula yang dalam bentuk skenario kasar. Maksudnya kasar disini adalah isi naskah tidak menampilkan detil aspek filmis seperti tipe shot, isi dialog wawancara, posisi kamera (camera angle) dan lain-lainya. Pembaca draft naskah cukup diberi informasi mengenai apa isi dan susunan penuturan di dalam film dokumenter tersebut. Bagi penulis sendiri untuk menyerahkan ide cerita ke sponsor sebelum perjanjian atau kontrak kerja di sahkan, lebih baik dalam bentuk draft. Karena penanganan terhadap pelaku tindakan hukum terhadap pembajakan hak cipta di Indonesia belum mampu memberi jaminannya secara menyeluruh, oleh karena itu tak ada ruginya anda melakukan antisipasi.

Treatment
Penulisan treatment untuk produksi dokumenter memiliki fungsi penting. Fungsi treatment tak hanya menuliskan tentang urutan adegan (scene) dan shot saja, tetapi harus ditulis secara kongrit keseluruhan isi yang berkaitan dengan judul dan tema, sehingga merupakan The Treatment of The Story.
Umumnya ketika melakukan shooting, sutradara cukup mengacu pada treatment karena selain penulisan skenario memakan waktu lama, juga dianggap oleh sebagian dokumentaris dapat mengekang kebebasan kreatif. Karena seorang sutradara dan penata kamera selalu harus siap dan peka ketika mengikuti adegan demi adegan yang berlangsung dalam peristiwa tersebut, bahkan kadang adegan tak terduga (spontan) dapat saja terjadi saat perekaman gambar (shooting).
Beberapa sineas dokumenter memulai penulisan skenario ketika memasuki tahap proses paska produksi untuk kepentingan editor, itupun sudah dalam bentuk naskah editing (editing script). Akan tetapi pada beberapa bentuk penuturan dokumenter, skenario sangat dibutuhkan sebagai cetak biru yang lengkap diatas kertas.
Pada beberapa dokumenter memang diperlukan naskah seperti dokumenter sejarah, dokumenter pendidikan dan instruksional, dokumenter film kompilasi dengan menggunakan sejumlah footage. Bentuk penuturan potret/biografi umumnya juga mengandalkan skenario. Dokumenter sejarah umumnya dituturkan secara kronologis, sehingga kreatifitas editor diperlukan untuk menginterpretasikan rancangan kronologi penuturan yang sudah di susun penulis naskah beserta sutradara. Mungkin pada dokumenter yang tidak memerlukan sisipan footage film, treatment kadang dibuat secara step out-line saja. Dimana susunan adegan dan pengambilannya ditulis pada out-line. Akan tetapi pada prinsipnya minimal anda membuat treatment  yang baik agar rekan kerja anda pun dapat memahami apa ide anda dan apa yang diinginkan dari film tersebut.
Di dalam treatment harus di jelaskan mengenai apa yang akan divisualkan atau direpresentasikan dalam dokumenter tersebut. Penempatan narasi dan komentar, khususnya pada adegan dimana visual tidak mampu menyampaikan informasi yang dibutuhkan penonton, harus diinformasikan di dalam treatment, meskipun isi narasi tak perlu ditulis secara kongkrit. Apabila ada wawancara maka dalam treatment perlu pula dijelaskan, meskipun isi wawancara tidak perlu ditulis secara menyeluruh, dengan memberikan catatan pada bagian isi wawancara yang utama. Selain itu sebuah treatment juga sudah memberikan alur cerita jelas, serta atmosfir bagi penataan suara yang diperlukan.
Berikut ini diketengahkan contoh sebuah Treatment yang merupakan bentuk umum di dalam dokumenter. Ini bukan bentuk baku karena ada pula tretament yang ditulis lebih sederhana lagi sehingga seperti sebuah catatan, di pihak lain ada pula treatment yang penjabarannya lebih luas dari pada contoh dibawah ini. Segala bentuk treatment di tulis sesuai dengan kemauan dan kebutuhan dari si pembuat itu sendiri. Akan lebih menarik bila isi treatment dilengkapi pula dengan sejumlah gamabr visual hasil riset.



Publikasi:



Sabtu, 07 Juli 2012

DISKURSUS KAMERA DALAM DOKUMENTER



 Sinematografi sebagai metode atau tehnik, menggunakan kamera sebagai alat untuk  menggambarkan subjektivitas ide. Melalui tata bahasa visual (gramatika film) wacana dan ide diekspresikan (kisah fiksi), sedangkan dokumenter lebih menggunakan istilah direpresentasikan.
Maka dapat kita artikan bahwa fungsi kamera adalah sebagai alat, untuk mengetengahkan konsep sinematografi. Apakah sesederhana itu kesimpulan ini dapat diterima ?.
Sejak John Grierson memproklamirkan istilah dokumenter, muncul satu obsesi dari para sineas dokumenter, yaitu keabsahan dalam mengetengahkan paparan realitas dan orisinalitas peristiwa. Bertutur dengan bahasa visual (gambar) secara apa adanya, adalah tujuan.
Satu hal yang menjadi kesepakatan universal bahwa, adalah tabu bila melakukan manipulasi tipe/ukuran shot. Lensa standard adalah acuan keabsahan. Hal menarik disini adalah, mengunakan variasi posisi kamera (angle) dapat diterima sebagai bagian dari estetika sinematografi.
Ada tiga perspektif yang bisa dijelajah melalui lintasan sejarah dokumenter.
1.      Perspektif Kino Pravda melalui konsep Kino Eye/Glass
2.      Perspektif Cinema Verite dan Direct Cinema melalui konsep observasional
3.      Perpektif Posmo melalui konsep Association Pictures story
Membicarakan diskursus kamera dalam dokumenter, secara garis besar ketiga perpektif ini, dapat dijadikan acuan dialog untuk sampai pada suatu temuan kajian yang komprehensif.  Meski kita mengawali dari era Dziga Vertov dengan Kino Eye nya, tak bisa diliwatkan begitu saja peranan Robert Flaherty yang meletakan fondasi bahasa visual sinematografi melalui beberapa karyanya.  Melalui ‘Nanook of The North (1922) dan Man of Aran (1934), Flaherty mampu merepresentasikan estetika sinematografi yang memukau, meski untuk itu cap romantisme diterimanya sebagai kritik, khususnya yang dilontarkan John Grierson seorang sineas dokumenter Inggris.
           KINO EYE/GLAZ
Kembali berbicara mengenai diskursus kamera dalam dokumenter, kita awali dengan manifesto Kino Pravda dari Dziga Vertov, yang menyatakan bahwa kamera merupakan mata film, dan ‘film dokumenter bukan merepresentasikan suatu realitas objektif, melainkan suatu realitas berdasarkan apa yang terlihat dan terekam oleh kamera sebagai mata film’.
      
Mata film disebutnya dengan istilah Kino Eye/Kino Glaz. Pada karya Man with the movie camera, Vertov memberikan argumentasi dari manifestasinya itu. Beberapa pendapat mengatakan bahwa karya ini lebih merupakan sebuah film berita ketimbang film dokumenter, . dan memang karya Vertov ini merupakan cikalbakal munculnya film berita. Menurut saya sepertinya Vertov dalam filmnya itu ingin mengetengahkan bukan hanya objek dan subjeknya saja, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana cara dia shooting. Vertov menyajikan bagaimana konstruksi imaji/gambar/shot melalui kamera sebagai mata film, dapat merefleksikan subjektivitas yang hendak dipaparkan pada penonton. Bill Nichols dalam bukunya Representing Reality 1991, menyatakan gaya Vertov dalam Man with the movie camera, adalah gaya Reflexive Documentary. Pendekatan gaya ini ingin merangkum semua aspek dari mulai properti/objek dan subjek, termasuk bagaimana proses perekaman gambar dilakukan.

CINEMA VERITE & DIRECT CINEMA
Diakui bahwa Kino Eye nya Dziga Vertov mampu memukau sekaligus mempengaruhi generasi baru sineas dokumenter dunia. Tentu tak lepas pula dari analisa kritis yang bertujuan mencapai obsesi yang tadi diatas telah disimpulkan. Di Perancis dan Amerika Serikat bermunculan aliran baru dengan metode observasional. Cinema Verite di Perancis dan Direct Cinema di Amerika, berusaha menerapkan prinsip baru  dalam dokumenter, untuk mencapai obsesi tersebut. Bill Nichols memasukan kelompok gerakan tahun 60’an ini dalam kategori Observational Documentary.   
Prinsip aliran ini adalah, baik sineas maupun kamera hanya berfungsi sebagai observator dalam melihat dan merekam peristiwa yang ada. Umumnya aliran ini anti menggunaan asesoris pelengkap kamera seperti trypod, dolly/crane, dan sebagainya. Posisi kamera (camera angle) tak perlu bervariasi, akan tetapi gerak kamera (camera moving) mendapat keabsahan untuk menciptakan shot yang memukau.
Karya Cinema Verite yang tetap menjadi acuan dalam literatur adalah karya Frederick Wisseman High School I 1968. Selama enam bulan Wisseman merekam semua peristiwa yang terjadi disebuah sekolah menengah umum  di Philadelphia. Kemudian tahun 1994 Wisseman kembali membuat High School II, dengan topik dan pendekatan yang sama. Karya Wisseman ini tak lepas dari kritik bahkan caci maki dari birokrat dan sebagian masyarakat Amerika. Sebuah karya kontroversial yang mengungkap apaadanya tentang sikap dan karakter siswa ketika di sekolah, yang membuat publik umum tercengang.
   
 Karya D.A Pennebaker Don’t Look Back 1967 dianggap pula sebagai sebuah karya Direct Cinema yang cukup fenomenal. Film ini mengisahkan tentang penyanyi balada Bob Dylan yang sedang melakukan tournya di Inggris tahun 1965. Dua tahun Pennebaker membutuhkan waktu untuk merampungkan karyanya ini. Dengan kamera yang dipanggul (camera handheld), Pennebaker merekam hampir semua sikap, karakter dan tingkah laku penyanyi Bob Dylan selama melakukan tour musiknya itu di Inggris.
Bila kita mengamati sejumlah film dokumenter dengan pendekatan gaya cinema verite maupun direct cinema, saya melihat bahwa gaya Pennebaker cukup berpengaruh, ketimbang yang lainnya. Hal jelas yang dapat diamati, misalnya pada type of shot yang standard, kemudian camera moving yang cukup aktif kadang progresif. dengan kamera handheld, ini merupakan cirikhas atau identitas dari komunitas ini.
   
 DOKUMENTER POST MODERN
Istilah dokumenter posmo dilontarkan oleh para penggiat kultural studi, yang mencoba menggali makna dan tanda dari perpektif semiologi maupun semiotika pada sejumlah karya film.
Dokumenter post modern (posmo) yang muncul secara fenomenal adalah karya Godfrey Reggio, ‘Powaqqatsi’1988. Bila ini kita kaji dan dikaitkan dengan tema judul diatas, maka Reggio mencoba merangkum gaya shot romantisme dari Robert Flaherty, yang dikombinasikan dengan konsep observational dari Jean Rouch, ketika awal dia mencetuskan gaya cinema verite, tahun 60’an di Perancis. Rouch yang secara tidak langsung dapat dianggap sebagai sineas yang mengembangkan bentuk etno dokumenter, ketika dia melakukan perjalanan panjang di benua Afrika (jajahan Perancis).
Reggio dengan konsep penataan fotografi yang menarik, ingin merepresentasikan tentang eksplorasi tenaga manusia di sebagian negara dunia ke III. Dalam karyanya ini Reggio ingin merepresentasikan gabungan nuansa penderitaan dengan romantisme visual. Dominannya slow motion shot difilmnya itu, merupakan interpretasi Reggio untuk menggugah emosional penonton. Terlihat sekali peranan kamera dalam beberapa karya dokumenter dengan gaya dan perspektif masing-masing, tetap berusaha mancapai obsesi yang sama, yaitu merepresentasikan orisinalitas sebuah realita.
 



Penutup:
Bila kita lihat semua perspektif yang diketengahkan diatas tadi, dapat disimpulkan bahwa diskursus kamera dalam dokumenter, tetap merangsang curah pendapat, diskusi, perdebatan,  baik dari para penggiat dokumenter maupun pengamat, termasuk juga para penikmat dokumenter. 
Relevansi manifestasi Dziga Vertov dengan kino eye/kino glaz, masih tetap tertanam, meski tak dipungkiri bahwa realisasi atau imlementasinya mendapat perubahan perspektif  konsep yang terus pula berkembang.
Observasional cinema verite dan direct cinema, masih tetap menjadi penjelajahan identitas bagi sineas dokumenter generasi baru.
Dengan munculnya dokumenter posmo, mungkin merupakan sebuah cara lain mencapai obsesi tersebut, dimana berusaha sepenuhnya bertutur dengan gambar (bahasa visual), meski kategori ini perlu dikaji kembali karena cukup sederhana untuk berkelit melalui ide eksperimental  maupun dokumenter seni.
Kesimpulan yang mungkin dapat kita cerna adalah, adanya sebuah obsesi universal bagi semua penggiat atau sineas dokumenter, justru memberikan rangsangan besar bagi perkembangan pada pendekatan, bentuk dan gaya didalam setiap garapan baru film dokumenter di dunia.


KINE FORM, JULI 2012
Gerzon.R.Ayawaila

Selasa, 12 Juni 2012

Melihat semakin banyaknya acara atau festival film dokumenter di Indonesia. hal ini merupakan suatu kebahagiaan sendiri bagi saya. Sekedar mengusulkan, khususnya untuk festival dokumenter yang motivasinya untuk kompetisi, mungkin kita perlu memikirkan untuk menyelaraskan metode atau konsep penjuriannya, agar terbentuk suatu cara/sistim penjurian yang jelas bagi semua calon peserta. Dengan demikian hal ini akan menambah bobot perkembangan dan kemajuan karya dokumenter di Indonesia.

Jumat, 18 Mei 2012

Devinisi Dokumenter


This essay on documentary film takes on as its mission a daunting task: defining criteria for the identification of "documentary film" and subsequently applying them to Michael Moore's Roger and Me. From the outset, I acknowledge the problematic nature of this undertaking. Were there a general consensus on the definition of documentary film then the task would be straightforward; at the end of this exercise, the reader would be either convinced or unconvinced by my argument as to the status of Roger and Me. But there is no, and can be no, agreement on the definition of documentary film. If you resist my definition, and therefore my conclusion, so be it. However, at a time when the line between documentary and drama is being increasingly and intentionally obscured, this attempt to isolate a more conclusive definition seems a worthwhile challenge. Before I proceed, I must state unequivocally that my goal here is neither to laud nor discredit Michael Moore or Roger and Me. It is rather to lay out the criteria that define documentary film and then determine whether Roger and Me can be said to belong to this genre.



A Working Definition of Documentary Film
What is it that makes a film a documentary? This question has been debated since the first nonfiction films appeared with the invention of the moving picture. For the purposes of this discussion, I posit that a documentary must meet the following five requirements: (1) it must attempt to tell a true story in a non-dramatic fashion; (2) it must appear to do so by presenting only factual evidence; (3) it must not attempt to re-create the truth (though some would defend the validity of this method); (4) it must claim objectivity; (5) most importantly, (and perhaps most difficult to ascertain) it must, as closely as possible, present all factual evidence in its original context.
John Grierson, who coined the term "documentary" in a 1926 essay, identified it as a "creative treatment of reality." This definition certainly seems to leave room for authorial augmentation and interpretation of events. I would suggest that "creative treatment" of reality leaves a documentary film vulnerable to becoming a work of fiction. Still, while my five criteria drive full-force at the necessity for a factual, objective, in-context examination of events, I do not lose sight of Grierson's definition. Though the perfect documentary should, in the Foucault tradition, appear to be authorless, the very medium of film precludes the possibility of this ideal. My "perfect" documentary is an impossibility (an issue I will address further towards the end of this piece). So I acknowledge Grierson here; every documentary brings with it, its author's repertoire of experience and his/her creative vision of reality.
In support of my definition, I will briefly justify each of the criteria I mentioned. As to the need to tell a true story, this is the very basis for documentary film. In "Questions Regarding the Genesis of Nonfiction Film," Komatsu Hiroshi writes, "The concept to which 'documentary film' currently refers is, in the end, subsumed in nonfiction...The negation signified by the prefix "non" in the term "nonfiction" is conceptually very clear: namely, that nonfiction is what is not fiction" (Hiroshi, WWW). Put quite simply then, the narrative must purport to be true.
My second and third criteria, require that only factual evidence be presented and that its representation not be in the form of "re-creation." I find it necessary to include these criteria in order to preserve the integrity of the "true story." Surmised truth, in my opinion, must be assumed to be fiction. It may likely be true, it may, in fact, seem to be the only rational explanation, but it may also be convenient to achieving the author's ends. I do not take issue with documentary filmmakers who present partial truth and thus permit viewers to make a personal determination of what most likely is true (one could argue that communication of "complete" truth is never achieved due to the inability to fully control interpretation). I simply disqualify those documentaries that invent truth when none is legitimately available. Likewise I dismiss "re-creations" of the truth which rely on the assumptions of both director and actors as to how factual events occurred. Verisimilitude is, in my opinion, detrimental to the documentary. There is a current trend in documentary, particularly popular television docu-dramas such as Unsolved Mysteries, to recreate a story and present it as factual evidence. However, truth lies in details and these recreations can only guess at them. Worse off, those crafting the recreations are unduly tempted (even subconsciously) to fill in details that further their own discursive agendas.
My fourth criterion states that the film must appear to be objective. Most literary theorists tell us, and rightly so, that every text has an agenda above and beyond its ostensible content. No text is created in a vacuum and no author can claim to be unaffected by the events, experiences, and learning that shape his/her perception. That said though, I expect a documentary to claim objectivity and make a reasonable attempt at it. If the director/author reveals an agenda that seems above and beyond the matter at hand, the audience, I believe, can become distrustful. In, "Documentary and Self-Representation in the Post-Verité Age, " Michael Renov supports the possibility of objectivity by building Raymond Williams' concept of a reasonable reliability into its definition: " ...objective was to be construed as 'factual, fair-minded (neutral) and hence reliable, as distinct from the sense of subjective as based on impressions rather than facts, and hence as influenced by personal feelings and relatively unreliable'" (Renov, WWW). Though objectivity itself may exist only in theory, Renov's less stringent definition calls only for a clear and reasonable attempt at fair-mindedness.
My last requirement is perhaps the one that is easiest to understand but most difficult to prove in a work: communication of proper context when relaying factual evidence. Intentional miscommunication of context is a powerful and effective way for a director to elicit a specific response and control viewer interpretation, while appearing to adhere to other expectations regarding accurate historical representation. One must never forget that the creation of documentary film shares more in common with the creation of fictional film than it does with the actual occurrence of the events it portrays. The documentary may portray the truth but it remains a narrow view shown through the eye of a camera; this is an eye that remains beyond the audience's control. When perceiving "truth" in actual events, we experience those events with multiple senses and, often, 360 degrees of mobility. The documentary does its best to simulate the experience, but it cannot escape reliance on standard techniques of filmmaking that require a filmmaker to construct the reality. It is startlingly simple to create a fictional story by carefully arranging and controlling the revelation of reliable, factual information. The filmmaker's challenge is great: to reveal the "truth," in a context that first and foremost supports the factual evidence (not to the exclusion of extenuating circumstances), and only secondarily, the filmmaker's "creative" interpretation.

 My Hypothesis

With my definition of documentary film established, I now turn the spotlight on Michael Moore's Roger and Me. In "Jargons of Authenticity," Paul Arthur describes this film as one of a handful that "shares with other cultural phenomena...a perhaps unprecedented degree of hybridization (of film genres)" (127). It would be foolish to suggest that Michael Moore intended to make a traditional documentary. It was his very intention to synthesize the traditional forms of the genre with the techniques used in the creation of dramatic film. It would further be foolish for me to delay in stating my own hypothesis: while Roger and Me attempts to reinvent documentary for the modern audience, the end product, in my estimation, borrows too much from the realm of fiction, to be called a documentary. By measuring Roger and Me against the definition I set forth in the first part of this essay, I will attempt to justify my position.

Regarding Storytelling
My first stated criterion requires that the film attempt to tell a true story in non-dramatic fashion. In some respects, Michael Moore appears to fulfill this requirement. This film does tell the story of how the city of Flint, Michigan suffered after General Motors laid off thousands of autoworkers. This story is told as our filmmaker attempts to track down Roger Smith, then chairman of GM. There is no question that this town found economic hard times in the wake of GM's actions; in principle, the telling of this story does not violate my first requirement.
Unfortunately, the companion text, Michael Moore's quest to meet Roger Smith and bring him to Flint, is an out-and-out construction. Michael Moore has created a story about himself (the first few minutes of the film are actually dedicated to telling his own life story). The search for Roger Smith and many of the exploits Moore experiences along the way, would not have occurred were he not filming this movie. It is, in many respects, dubious to create a documentary about events that would not otherwise have occurred.
Not only is the storyline developed for the purpose of creating this film, so too are characters constructed for the purpose of creating that story. As I mentioned, from the initial moments, Moore himself is inserted as a "character" in this fiction. In fact, Michael Moore has built a series of recurring characters who form the basis for the story (see figure 1); Moore himself stars as "the filmmaker" in search of Roger Smith. Other characters include a sheriff's deputy who evicts the residents of Flint, an underprivileged woman who must sell rabbits (as meat or pets) to get by; an Amway salesperson and aura analyst; a GM lobbyist who, after arguing tirelessly in GM's behalf, is himself laid off at the film's end; and of course the great enemy himself, Roger Smith. While the characters may be constructed from reality, they are constructed nonetheless.

The camera follows these characters in dramatic fashion as they reveal the details of their lives. Each of them helps to drive home Moore's pointed message about the egregious wrong that has been perpetrated on his hometown.

One last point regarding my first criterion: I must take issue with Moore's dramatic technique in presenting this "true story." The latter portion of my first requirement states that the story must be told in non-dramatic fashion. After all, even Sunday night made-for-television movies claim to be true stories. It is the non-dramatization of a story that enables it to bear the authenticity of a documentary. Moore's hybrid takes too many liberties in the use of traditional dramatic tools. Consider the frame of Tom Kay in figure 1 which has been taken from the end of the film. The title informs us of Tom's fate after the conclusion of the "story." This is a technique used in fictional film for relating the fate of a character whose story cannot be contained within the temporal structure of the narrative. In documentary though, there should be no such need. There is no parcel of time that is beyond our reach because we are usually looking at events that have already concluded or are presently happening. Moore uses other dramatic devices as well including old movie footage, an ironically pointed soundtrack, and even a progress map (not unlike the one used at the beginning of Casablanca) which summarizes Smith's travels across the country (see figure 2). I also call into question the gratuitous violence in the rabbit scene which does not serve to further our understanding of events. Gratuitous violence is another technique employed in dramatic portrayal to hold viewer attention or draw emphasis to particular events, beyond that which those events normally command. Whether it be in construction of a fictional story or use of dramatic devices, Moore's film does not present a strict non-dramatic presentation of a true story.

Use of Factual Evidence
My second and third criteria relate to the presentation of factual evidence and the avoidance of re-created "factual" evidence. Certainly the facts we learn about Flint are true. Actually, Moore goes to great pains to provide us with hard numbers, real people, and real imagery. However, Moore taints justifiably important interview footage by juxtaposing it with footage that has very little to do with his story. There are many scenes of Flint's townspeople that, rather than show how their lives have been ruined, seem to serve little purpose other than to ridicule them; one cannot always see a cause-and-effect relationship between certain idiosyncratic behaviors and the GM layoffs. Other scenes, particularly those near the beginning of the film, seem only to document the life of Michael Moore and do nothing for the case that he is ostensibly presenting.
I must also call into question two scenes, one which I suspect is re-created the other which is wholly created. When Moore laments his experience in San Francisco, he relates his inability to find a simple cup of coffee. The audience is presented with a waitress (see figure 3) who nervously lists the multitude of coffee options available while looking directly into the camera (as if we the audience were making an inquiry). While it is possible that a hidden camera simply happened to catch this moment, it seems much more likely that this woman is performing for us. I would similarly call into question the scene in which the woman who raises rabbits kills and then guts an animal for the camera.
Purporting Objectivity
My fourth requirement calls for objectivity. Lack of objectivity is perhaps an understatement when it comes to Roger and Me (and Moore's other work, including TV Nation). This is not a judgment on the worth of the film; it is simply a statement that this work may not meet my criteria to be considered a documentary. I will quickly posit that Michael Moore makes no claims to be objective. From the outset of the film, he makes his resentment towards both GM and the town of Flint abundantly clear. He says, in regard to a comment by a GM spokesman on the dedication of GM workers:
Well that all sounded fine and good but the assembly line wasn't for me. My heroes were the Flint people who had escaped the life in the factory and got out of Flint. Like the guys in Grand Funk Railroad, Casey Kasem, the women who married Zubin Mehta and Don Knotts, and perhaps Flint's most famous native son, Bob Eubanks, host of TV's hit show, The Newlywed Game. I figured if Bob Eubanks could make it out of here, then so could I.
Moore's contemptuous view of his hometown, coupled with his unflattering portrayal of its townspeople, make it clear that he is not bringing us an objective vision. Likewise Moore's
portrayal of GM and Roger Smith is shown to be highly subjective within the first ten minutes of the film. I call particular attention to the scene in which we are introduced to Smith via news footage and more importantly Moore's voice-over. Moore's carefully crafted language, peppered with sly editorial commentary, leaves the viewer little room to impose his/her own judgment on Roger Smith:
So this was GM chairman Roger Smith and he appeared to have a brilliant plan. First, close eleven factories in the U.S. Then, open eleven in Mexico where you pay the workers 70 cents and hour. Then use the money you've saved by building cars in Mexico to take over other companies. Preferably high-tech firms and weapons manufacturers. Next, tell the union that you're broke and they happily agree to give back a couple billion dollars in wage cuts. You then take that money from the workers and then eliminate their jobs by building more foreign factories. Roger Smith was a true genius.
Moore's cold logic, biting cynicism, and ironically upbeat intonation, leave the viewer little doubt about his true feelings. Further no attempt is ever made to reasonably understand or communicate Roger Smith's point-of-view. In fact, the careful structuring of Moore's language here effectively discredits Smith's point-of-view by combining a sarcastic tone with the inference of a dastardly plan devised by an unsympathetic Smith. Clearly, Moore does not present an objective analysis.

Context of Evidence
Closely related to the matter of objectivity, is my fifth and final criterion, that of presenting evidence in context. As I mentioned previously, context may be the most difficult point to argue as one could suggest there is really no such thing. Context is itself a construction-an attempt to create verisimilitude. I must fall back on Renov's definition of objectivity which I feel can apply to context as well: a film need not be strictly objective and facts need not be strictly in context. However, the film must appear to make an honest attempt at being objective and preserving context. Michael Moore is quite obviously not concerned with objectivity. However, somewhat less obvious is the fact that he is not overly concerned with presenting events in context.
To support this claim, I will cite a few specific examples of ways in which Moore controls context to sway the viewer's interpretation of events. In one scene, the woman who raises rabbits, is being questioned about her sad state of affairs. She is about to kill and gut a rabbit in a manner that is gratuitously violent and, in my estimation, unnecessary for Moore to make his case. Just as the first blow is to be struck, Moore asks the woman, "What happened to your brother who was working over at the factory?" The woman responds, "he got laid off." Immediately we cut to a scene of the woman bashing the skull of the rabbit. This instant transition is not coincidental. By juxtaposing these two moments, Moore has created an association between the acts of GM against its poor defenseless workers and the act of this woman against this poor defenseless rabbit. There was, in fact, no reason for Moore to ask the woman such a question just at that moment. It served only to further his own agenda.
A second compelling example of "creative" context occurs near the end of the film as we see Roger Smith deliver his Christmas address to GM employees. Moore has chosen to interweave scenes from this address with scenes of the deputy sheriff evicting tenants on Christmas (see figure 4). There can be no mistaking the ironic meaning that Smith's words take on as we see an evicted man carrying his Christmas tree out of his apartment together with his family's other belongings. The GM chairman says of Christmas, "We've listened for the jingle bells in the country, we've smelled the pine needles on the trees and the turkey on the table"; these words are spoken over images of the evicted family finally being ejected from their home and their Christmas tree dumped in the trash.
Moore has done a masterful job of imparting tragic irony. However, we must keep in mind that this tragic irony has been created in the studio. These two events did not, most likely, take place concomitantly. Yet it serves Moore's purpose to portray them as if they did. Careful control of context can distort historical representation and can turn real events into a fictional account.
I must make one last point about the control of context in Roger and Me before I conclude. Moore makes extensive use of voice-over in this film. Voice-over serves an important role in documentary by creating context. Used judiciously, voice-over can provide, at least what appears to be, illuminating, objective context for the images that accompany it. However, Moore goes beyond a simple commentary on extenuating circumstances or the telling of a history which can not be visually represented. Moore provides constant narration that, as previously established, attempts to control the viewer's interpretation of events being shown. This manipulation of context changes the perceived value of real footage. When Moore says, "Roger Smith was a true genius," we note his irony and incorporate it into our interpretation of the actual footage and audio (of Smith) we have simultaneously experienced. I must also hark back momentarily to my first requirement regarding use of non-dramatic techniques in documentary. Moore has created a full script for this documentary; not a script that simply describes his visuals, but rather a screenplay which is intended to entertain and influence. The narration of Roger and Me violates my definition of documentary film by telling a largely constructed story which serves to distort the context of the camera's testimony.

Conclusion
It is not possible for this author to pronounce final judgment on whether Roger and Me can justifiably be called a documentary. As I stated at the outset, with no widely accepted definition of the genre, documentary can be whatever Michael Moore wishes it to be. Still, I believe I have clearly demonstrated that, by my own five-pronged definition, Roger and Me veers too far into the realm of fiction to be considered a documentary film. Its lack of objectivity, its creative treatment of context, as well as its extensive use of dramatic technique and peripheral or "re-created" evidence, seems to me to create a picture of reality that is as much fiction as fact. I do not doubt the larger truth that Flint, Michigan has been devastated by the actions of General Motors (be they warranted actions or not); but, in my opinion, Moore's "creative treatment of reality" is too "creative" to be accepted as the unmitigated truth. This assessment does not detract from the value of the work. In fact, now that I have reached the conclusion, I feel there is no need to further equivocate on one important point: I actually like the work of Michael Moore in Roger and Me (as well as TV Nation). I find his manner to be both entertaining and endearing. I simply cannot classify this film as a documentary, by my own standards.

Works Cited
  • Arthur, Paul. "Jargons of Authenticity (Three American Moments)." 118-134 (Full citation not available)
  • Hiroshi, Komatsu. "Questions Regarding the Genesis of Nonfiction Film." Documentary Box, No. 6, March 26, 1995: http://www.tuad.ac.jp/net-expo/ff/box/en/index.html
  • Renov, Michael. "New Subjectivities: Documentary and Self-Representation in the Post-VeritŽ Age." Documentary Box, No. 7, July 31, 1995: http://www.tuad.ac.jp/net-expo/ff/box/en/index.html
  • Roger and Me. Dir. Michael Moore. Warner Brothers, 1989.
  • Williams, Raymond. "Subjective," Keywords: A Vocabulary of Culture and Society (London: Flamingo, 1976): pp. 308-312.
Copyright ©1996-2002 Michael Weinberger.
 Michael Weinberger received his Bachelors degree in Writing from Carnegie Mellon University and his Masters degree in Liberal Arts from the University of Pennsylvania. While Michael maintains a strong interest in film studies, he makes his living as a manager of internet-based marketing strategy for one of the world’s largest healthcare companies.
Michael may be contacted by e-mail at mailto:michael@weinberger.com.

Rabu, 04 Mei 2011

MENULIS NASKAH DOKUMENTER




Oleh: Gerzon R Ayawaila


"Dokumenter yang bagus, harus memperlihatkan kekuatannya,
 dalam  membuat kehidupan sehari-hari menjadi dramatik,
dan masalah yang ada menjadi suatu puisi"
 kata John Grierson.  (Suer; hal.41)


Pada prinsipnya ada 4 tahapan dalam penulisan:
  1. Melakukan Riset lalu menulis transkrip hasil riset
  2. Menulis Sinopsis sebagai pencetusan ide dasar
  3. Menulis Treatment sebagai rancangan cerita
  4. Menulis Skenario setelah hasil riset diperiksa ulang. Kadang skenario di tulis saat memasuki tahap paska produksi (editing).

Sinopsis
Merupakan tulisan rangkuman yang ringkas, untuk menjelaskan isi penuturan yang akan diketengahkan secara garis besarnya saja. Sekaligus menjelaskan permasalahan yang ingin diungkap sebagai tujuan utama. Fokus dan penjelasan dalam sinopsis harus jelas, agar bila nanti meningkat penjabarannya dalam penulisan treatment, alur cerita menjadi lancar dan mudah dimengerti berdasarkan logika.

Treatment
Penulisan treatment untuk produksi dokumenter memiliki fungsi penting. Fungsi treatment tak hanya menuliskan tentang urutan adegan (scene) dan shot saja, tetapi harus ditulis secara kongrit keseluruhan isi yang berkaitan dengan judul dan tema, sehingga merupakan The Treatment of The Story.
Umumnya untuk memulai perekaman gambar (shooting), sutradara cukup mengacu pada treatment, karena selain penulisan skenario memakan waktu lama, juga dianggap dapat mengekang kebebasan kreativitas. Karena seorang sutradara dan penata kamera harus selalu siap dan peka terhadap adegan-adegan tak terduga (spontan) yang terjadi saat perekaman gambar.
Skenario baru ditulis pada saat memasuki tahap proses paska produksi untuk kebutuhan editor. Akan tetapi pada beberapa bentuk penuturan dokumenter, perekaman gambar harus mengacu pada isi skenario, seperti dokumenter sejarah, film pendidikan dan instruksional,  atau dokumenter yang merupakan film kompilasi dengan menggunakan sejumlah footage. Bentuk penuturan potret/biografi juga sering berpatokan pada scenario.
Pada dokumenter sejarah, titik perhatian diberikan pada kreatifitas editor, untuk menginterpretasikan rancangan kronologi penuturan yang sudah di susun penulis naskah beserta sutradara. Mungkin pada dokumenter yang tidak memerlukan sisipan footage film, treatment kadang dibuat secara step out-line saja. Dimana susunan adegan dan pengambilannya ditulis pada out-line.
Penulisan treatment harus di jelaskan mengenai apa yang akan diketengahkan dalam dokumenter tersebut. Penempatan narasi/komentar, khususnya pada adegan dimana visual tidak mampu, menyampaikan informasi yang dibutuhkan penonton, harus diinformasikan di dalam treatment. Apabila ada wawancara, maka dalam treatment perlu pula dijelaskan, meskipun isi wawancara tidak perlu ditulis. Selain itu sebuah treatment juga sudah memberikan alur cerita jelas, serta atmosfir bagi penataan suara yang diperlukan.
Skenario
Pada prinsipnya skenario berfungsi sebagai panutan, penentuan, pembatasan dan gambaran pra-visual. Penulisan dokumenter kadang memerlukan suatu proses panjang sebagai tahapan kerja dalam pra produksi. Penggunaan skenario kongkrit pada film fiksi mutlak diperlukan. Dokumenter juga membutuhkan skenario, tetapi kemutlakannya tak sama seperti tahapan kerja film fiksi. Fungsi serta arti Treatment dan Skenario dapat dibedakan. Treatment berfungsi memberikan gambaran mengenai apa yang akan diketengahkan, sedangkan Skenario menjadi gambaran kongkrit mengenai bagaimana film tersebut akan diketengahkan (dikemas).
Lama waktu penyusunan (transkrip) hingga penulisan naskah dokumenter umumnya tergantung dari hasil riset. Karena penulisan untuk film dokumenter baru dianggap selesai setelah informasi hasil riset diolah kembali, sekaligus melakukan cek dan recek. Kadangkala ini pun belum memberikan suatu keyakinan bahwa semua data riset yang didapat benar-benar akurat. Karena alasan ini banyak dokumentaris yang mengambil jalan pintas, yaitu bertumpu pada interpretasi pribadi saja. Konsekwensinya ialah, realita yang dipaparkan ada kemungkinan menjadi rancu, dan nilai validitasnya meragukan. Karena terlalu banyaknya interpretasi pribadi, sehingga memungkinkan kita terjebak dalam dikhotomi fakta dan fiksi.

 Struktur

Secara umum dalam menulis skenario dikenal 3 tahap struktur klasik/konvensional:
q  Bagian awal: merupakan sketsa dari isi cerita, pengenalan para tokoh, waktu kejadian dan lokasi kejadian.
q  Bagian tengah: proses adanya konflik, serta ketegangan peristiwa   
q  Bagian akhir: penutup, konklusi, klimaks atau anti klimaks, happy ending atau tidak

Dalam penulisan harus ada gambaran jelas, mengenai struktur penuturan, hubungan antara satu aksi dengan aksi lainnya dalam sebuah peristiwa. Setiap pergantian aksi harus diperhatikan ritme penuturannya, serta aspek dramatik sebagai pembangkit emosi dalam lingkup pemaparan fakta. Dokumenter menolak terlalu banyak interpretasi yang merupakan hasil kreativitas imajinatif. Perlu di ingat bahwa dokumenter kurang mementingkan gaya tetapi lebih konsentrasi pada isi.

Secara umum ada tiga bentuk struktur dalam dokumenter:

Secara Kronologis, dimana diceritakan bagaimana awal serta kelanjutan dari peristiwa. Pada struktur kronologis, waktu menentukan konstruksinya atau konstruksi alur kisah bergantung pada waktu. Misalnya jika menggunakan gaya bertutur 'buku harian', dilakukan tehnik kilas balik, maka susunan adegan akan mengikuti perjalanan waktu. Disini struktur kronologis mau tak mau akan terputus, tetapi susunan adegan akan terjaga karena diatur oleh waktu.
Secara Tematis, cerita dibagi dalam beberapa kelompok tema, dimana sebab dan akibat digabungkan dalam tiap sequence. Dalam satu adegan penulis bisa membangun serta menggabungkan sebab dan akibatnya. Hasil gabungan sebab dan akibat dari suatu fakta, yang terdiri dari beberapa adegan itu, lalu disusun kedalam satu sequence.
Secara Dialektik, konstruksi ini lebih memiliki kekuatan dramatik, karena menyuguhkan suatu tanda tanya yang langsung diberi jawabannya. Apabila ada aksi, maka langsung diikuti dengan reaksi. Didalam struktur dialektik terdapat variasi menarik pada cara bertutur yang kontras. Dalam peristiwa yang terjadi pada waktu bersamaan, penulis dapat menempatkannya kedalam sebuah kontradiksi.

Peraturan mengenai panjang pendeknya suatu adegan, tempo dan dinamika irama tidak ada, karena ini persoalan artistik yang berkaitan dengan konsep estetika dan kreatifitas individu. Sudah pasti semua ini dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Hal yang perlu diperhatikan ialah jangan sampai terjadi alur cerita diantara dua adegan menjadi statis. Oleh karena itu perlu ditarik garis paralel yang berbeda-beda dalam alur ceritanya. Untuk menjaga agar penonton tidak merasa bosan menantikan klimaks cerita, maka 5 hingga 10 menit menjelang akhir cerita, umumnya disuguhkan adegan-adegan dramatik atau tampilkan adegan-adegan utama dari isi cerita. 

Realita pada karya dokumenter harus selalu memiliki konteks, karena konteks merupakan arti dari fakta yang disuguhkan dari suatu peristiwa, disamping itu konteks merupakan hal utama dalam sebuah skenario.

Tokoh dan Nara Sumber
Didalam merancang atau menyusun isi cerita, peranan antara tokoh dan nara sumber perlu dijelaskan. Tokoh pemeran utama didalam film dokumenter memiliki peranan fungsional untuk mengetengahkan realita suatu peristiwa, dengan tujuan mengembangkan unsur dramatik didalam konflik. Sedangkan nara sumber dapat sebagai sumber informasi saja, atau dapat pula sebagai pemeran pembantu.
F Dengan mengacu pada hasil riset, penulis/sutradara dapat menganalisa, apakah pemilihan subjek sudah tepat sebagai pemeran atau sebagai nara sumber ?.
F Apakah peranan tokoh ini sebagai informan cukup penting, serta mampu mengekspresikan tema tersebut dan memberikan unsur dramatik?.
F Apabila peran subjek hanya sebagai nara sumber, maka menampilkannya cukup liwat komentar atau narasi saja (off screen) dilengkapi dengan ilustrasi gambar.
F Apabila mengenai suatu aksi, penulis harus menganalisa apakah aksi dari tokoh tersebut perlu ditampilkan dalam cerita atau tidak ?.
Pertanyaan-pertanyaan macam ini perlu dikaji dan di seleksi, untuk mendapatkan subjek yang betul-betul tepat sesuai dengan tema.
Membuat film dokumenter mengenai subjek yang sudah meninggal cukup menyulitkan, maka untuk mengisi sugesti dari ketidak hadiran sang tokoh, ditampilkan hal-hal yang berhubungan erat dengan kehidupan si tokoh. Misalnya menampilkan nara sumber sebagai saksi hidup dari peranan si tokoh didalam peristiwa itu. Atau dapat pula menampilkan benda-benda atau materi yang merupakan simbol dari figur si tokoh utama. Pendekatan ini dapat memberikan perincian kongkrit, sebagai sketsa dari ketidak hadiran sang tokoh tersebut.
Pada teori film dikatakan bahwa penonton akan mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu tokoh dalam cerita film. Hal ini dilakukan karena adanya simpati atau semacam pengenalan diri (identitas) dari si penonton itu sendiri, dimana sikap ini dilakukan tanpa sadar. Beranjak dari teori ini, tak ada salahnya menggunakan metode tersebut untuk memilih tokoh-tokoh serta membangun karakter yang akan dimunculkan pada film dokumenter.
Semua prinsip struktur dalam metode penulisan skenario tidak perlu dijadikan suatu peraturan baku, tetapi dapat digunakan sebagai alat bantu yang fungsional. Setiap struktur dramatik dari cerita, baik untuk skenario fiksi maupun non fiksi, memiliki logika dan kekuatannya sendiri-sendiri.

skenario cerita fiksi, adalah ungkapan obsesi pribadi, sedangkan
skenario dokumenter, merupakan ungkapan obsesi orang lain.

Untuk bentuk film edukasi atau instruksional dokumenter, sebelumya perlu memikirkan kelompok sasarannya. Misalkan membuat tema mengenai penyakit kangker, bila sasarannya untuk umum maka cukup menjelaskan penyebabnya, gejalanya, serta akibatnya secara umum pula. Karena penonton harus mampu menangkap dan mengerti secara mudah apa yang disuguhkan, dimana realita tersebut dapat dilihat dan dirasakan dalam kehidupan sehari-harinya. Tetapi apabila sasarannya pada kelompok khusus, seperti mahasiswa kedokteran, perawat, petugas penyuluhan kesehatan. Maka pembuat dokumenter perlu mengetahui terminologi medis yang berhubungan dengan suatu penyakit, disamping menggunakan pakar sebagai penasihat ahli.
Dari hasil riset penulis dapat mengetahui bagaimana struktur penuturan yang akan disusunnya. Penulis juga mengetahui gambaran apa yang dapat divisualisasikan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Apabila harus menggunakan materi visual (footage), harus diteliti lebih dahulu apakah masih layak pakai atau tidak. Materi visual yang bisa didapatkan, merupakan faktor penting atau faktor kemudi bagi penulisan dokumenter.
Sering pula terjadi informasi yang terkumpul dari riset terlalu banyak, sehingga penulis kesulitan untuk menyeleksi informasi mana yang tepat untuk tema. Hal utama yang menjadi titik tolak seleksi informasi ialah, penulis dapat mengawalinya dengan mengamati hal utama dari peristiwa, sehingga mampu melukiskan konflik-konflik yang ingin diungkapkannya. Kemudian setelah itu penulis dapat menganalisanya lebih jauh, untuk mengkongkritkan akurasi informasi yang ada, serta yang masih dibutuhkan. Suatu hal yang menjadi kenyataan bahwa tidak ada penulisan skenario yang perfekt.